Hari Mebel Indonesia, HIMKI Minta Pemerintah Pangkas Regulasi yang Bikin Ribet

CIREBON - Pengusaha mebel dan kerajinan rotan inginkan pemerintah pusat pangkas regulasi tentang kayu dan rotan yang membuat para pengusahanya semakin dibuat keblinger.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Ir. Soenoto saat dalam sesi konferensi persnya di hari Mebel Indonesia yang jatuh pada tanggal 16 Mei 2018.

"Kata Jokowi sendiri, ada sekitar 42 ribu regulasi yang mengganggu jalannya bisnis mebel di Indonesia sehingga itu sangat menyulitakan pengusaha untuk berkembang," tuturnya.

Dia menjelaskan, salah satu regulasi yang membuat pusing para pengusaha adalah adanya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk furniture. Katanya, harus dituntut sesuai standar internasional. Dan juga, setiap perusahaan harus memilikinya dan harus diperbarui setiap tahun.

"Padahal, di Negara Cina dan Vietnam tidak berlaku yang seperti itu,Sistem Verivikasi Legalitas Kayu" ujarnya.

Soenoto juga mencontohkan, ada sebuah PMA (Penanaman Modal Asing) besar di Surabaya, yakni PT Waenibe Wood Industri (WWI), yang kini pindah ke Vietnam sekitar satu setengah tahun yang lalu. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya gangguan regulasi di sana. Bahkan pemerintahnya sendiri memberikan dukungan.

Selain itu, juga ada impor bahan yang sebetulnya bahan itu dipakai untuk komponennya produk Indonesia, yang nantinya akan diekspor lagi. Menurutnya, hal tersebut sangat ribet, di mana harus masuk karantina terlebih dahulu dan proses lainya.

"Kita disuruh maju tapi kaki kita dibelenggu oleh sistem - sistem aturan regulasi," terangnya.

Karena itu, lanjutnya, di HIMKI ada departemen khusus, yakni departemen regulasi yang dipimpin oleh Waketum sendiri. Tugasnya adalah terus menginventarisir regulasi-regulasi apa yang menghambat.

"Saya berharap tidak ada lagi regulasi yang mengganggu, hingga target minimal USD 5 miliar bisa tercapai dalam sektor bisnis mebel dalam setahun. Karena sekarang Indonesia hanya mampu di angka USD 2,6 miliar, padahal kita menguasai pasar mebel terutama di Eropa dan Timur tengah" pungkasnya. (Jhn)

Related Articles