Kisah Mengerikan Sopir Ambulan RSUD Antar Pelaku Tewas ke Kampung Begal (Part3)

KARAWANG- Kisah mengerikan pun dialami sopir ambulan RSUD Karawang saat dirinya turut menjadi  incaran keluarga dan warga ”kampung begal” Cilempung saat menghantar jenazah pelaku curanmor,  di Dusun Krajan, Desa Pasirjaya, Cilamaya Kulon.

Selain ambulannya di hujani lemparan batu, ia pun nyaris menjadi korban amukan massa yang ngamuk membabi buta. Peristiwa mencekam itu dirasakan Daan Pageto (55), yang akrab dipanggil Apih pada Jumat (23/8/2015) silam.

Apih, dikenal menggawangi  kendaraan ambulan RSUD Karawang selama 20 tahun, merasa nyawanya berada di ujung tanduk saat kejadian itu. Betapa tidak, kejadian yang berdampak enggannya petugas RSUD menghantar jasad pelaku kejahatan hingga saat ini lantaran menyisakan trauma mendalam akibat kejadian itu.

Dirasakan Apih, saat itu dirinya harus berlari menyelamatkan diri di tengah kegelapan, menghindari massa penduduk “kampung begal” yang mengamuk usai menghantarkan jasad Dalim (pelaku curanmor yang tewas dihakimi massa).

“Saya berangkat antar dua mayat pelaku Curanmor, Dion dan Dalim. Berangkat dari RSUD sekitar jam 19.00 WIB,” kata Daan, kepada Portaljabar, mengulang kisah yang menyisakan ketakutan berkepanjangan itu, Sabtu (2/6/2018).

BACA: EKSKLUSIF : CERITA MENGERIKAN SOPIR MOBIL JENAZAH PARA BEGAL YANG TEWAS DITEMBAK POLISI KARAWANG

Daan menuturkan, saat dirinya bersama Acu (asistennya), menghantar jasad pelaku tewas pertama, Dion, ke Cilempung, tak pernah terbesit akan kejadian mengerikan dikejar massa yang kalap.

Pasalnya, kejadian penyerangan terhadapnya  terjadi saat ia menghantar jasad pelaku tewas kedua, Dalim, ke Dusun Krajan, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, sekitar pukul 20.30 WIB.

“Awalnya keluarga (Dalim) minta kafan dibuka ikatannya, katanya mau mastiin. Tapi tiba –tiba dari dalam rumah salah seorang keluarganya ngamuk dan langsung melempari ambulan dengan batu hingga kaca mobil pecah sambil berteriak ‘ Anj***, usai melihat sejumlah jahitan di mayat Dalim,” katanya.

Melihat hal itu, kata Daan, ia dan Acu sempat terpana melihat peristiwa tersebut. Ia kemudian memilih untuk melarikan diri bersama Acu, setelah melihat sekelompok warga lainnya turut mengamuk melempari ambulan.

“Pokokna apih (panggilan akrab Daan) dan Acu langsung lumpat (lari) pas lihat massa banyak. Te nyaho tah kamana lumpat teh,  pokokna poek jeng asup kebon, mana nabrak tangkal cau. (Ga tau kemana saya lari, masuk kebun dan gelap, mana nabrak pohon pisang). Apih udah berfikir bakal mati aja malam itu, ” tuturnya.

Saking paniknya, lanjut Daan, dalam pelarian tersebut ia terus berdoa meminta keselamatan. Target utama pelariannya adalah rumah salah seorang PSM (pekerja sosial masyarakat) RSUD Karawang, Sudi, yang tinggal di Desa tersebut. Namun, ditengah suasana mencekam yang di rasakannya, ada hal lucu diceritakan Daan.

“Saya saat itu berdoa terus sambil lari. Saking panik dantegang, doanya pun sampai ngaco, malah nyambung ke baca naskah pancasila,” kelakar, Daan.

Namun, rasa mencekam masih dirasakannya meskipun sempat berhasil menemukan rumah Surdi. Ia sempat meminta perlindungan di rumah Surdi, kendati saat itu hanya ditemui orangtuanya. Tak lama, ia akhirnya bertemu Surdi yang datang bersama salah seorang warga menemuinya dan menanyakan perihal kejadian yang di alaminya.

“Saya tak lama di rumah Surdi, karena teman Surdi menyarankan saya pindah ke rumahnya agar aman. Itu pun pindahnya ngendap-ngendap takut ketahuan yang ngejar saya. Karena di depan rumah Surdi seliweran terus suara sepeda motor yang nyari saya,” ungkapnya.

Masih kata Daan, ia sempat terpisah dengan temannya Acu dalam pelarian dari amuk massa Dusun Krajan. Kendati akhirnya ia menerima telpon dari Acu yang ternyata masih bersembunyi dari kejaran massa di luar rumah.

“Acu telpon saya, katanya dia ngumpet di kandang kambing tapi nggak tau dimana. Dia telpon saya sambil nangis ketakutan. Tapi akhirnya ia juga dijemput warga yang peduli,”ujarnya.

Singkat cerita, ia dan Acu akhirnya berhasil dievakuasi ke Pospol Cilamaya oleh tokoh masyarakat setempat dan bertemu dengan rombongan aparat Polres Karawang dan Polsek Cilamaya. Meskipun, ungkap dia, dalam perjalanannya ia harus beberapa kali menenangkan diri lantaran kembali nyaris dikejar sekelompok pemuda ber sepeda motor.

“Saya baru merasa bernyawa saat bertemu rombongan Polisi.  Hal itu tidak akan saya lupakan seumur hidup, karena itu pengalaman paling mengerikan sepanjang 20 tahun saya bekerja sebagai sopir ambulan,” tuturnya.

Saksi kejadian, Sudir, petugas PSM RSUD Karawang, menuturkan, perusakan kendaraan pemerintah tersebut dilakukan saat kendaran hendak pulang usai antar jenazah, ke RSUD. Namun, tiba- tiba dia di serang sekelompok massa yang melempari kaca ambulan hingga hancur. Tak hanya itu, massa pun menyeret serta sempat menyiramkan bensin dengan niat membakarnya.

Namun karena api tak kunjung menyala, massa kemudian menghancurkan mobil dengan sejumlah alat serta menggulingkannya ke irigasi persawahan yang ada di lokasi kejadian, sebelum akhirnya dievakuasi aparat Kepolisian. (Tar)

 

BACA JUGA:

CERITA KOMENG SOPIR MOBIL JENAZAH, PERLAKUAN ISTIMEWA KELUARGA BEGAL KELOMPOK LAMPUNG

KAKAK ALMARHUM OD, BANTAH INTIMIDASI SOPIR MOBIL JENAZAH

 


Related Articles