Koperasi Karyawan PT Changsin Dituding Tak Setorkan Uang Pelunasan Utang Nasabah

KARAWANG - Seorang karyawati PT Changsin kecewa terhadap Koperasi Simpan Pinjam (KSP) khusus karyawan pabriknya, lantaran tak terima uang pelunasan pinjamannya ke Koperasi diduga tak disetorkan ke bank.

Diketahui, koperasi tersebut merupakan koperasi yang mewadahi simpan pinjam karyawan perusahaan produksi sepatu yang ada di wilayah Klari. Koperasi itu bekerjasama dengan Bank Sejahtera yang beralamat di Jakarta.

"Saya kecewa tak kunjung mendapat penyelesaian dari pihak Koperasi. Sementara pihak Bank terus nagih utang pinjaman saya padahal utang saya ke Koperasi sudah lunas setahun yang lalu," kata Nengsih, nasabah Koperasi itu.

Dikatakan Nengsih, dirinya pernah meminjam uang ke Koperasi Karyawan tersebut sebesar Rp 23 juta, dengan perjanjian pelunasan selama 3 tahun. Setiap bulan, ia mengaku membayar cicilan sebesar Rp940 ribu melalui koperasi sesuai perjanjian.

"Setoran ke 19 saya lunasin penuh sisa pinjaman saya sesuai perhitungan pihak Koperasi sebesar Rp 16.991.000," katanya. 

Kemudian, lanjut Nengsih, dirinya menyetorkan uang pelunasan kepada pihak Koperasi melalui petugasnya bernama Kusnadi. Bahkan, kwitansi pelunasan pun ia dapat lengkap dengan stempel resmi koperasi. 

Namun, selang 3 bulan kemudian datang dua orang penagih utang yang mengaku dari pihak Bank Sejahtera selaku mitra Koperasi karyawan PT Changsin untuk menagih sisa cicilan pinjaman. 

"Padahal kan sebelumnya sudah dilunasi, tapi kok ada yang nagih cicilan dari Bank, saya juga kan tidak pinjam ke Bank itu tapi ke Koperasi. Katanya saya menunggak cicilan," tutur  Nengsih.

Penasaran, lanjut Nengsih, dirinya mengecek ke Bank dan pihak Koperasi tersebut untuk mengetahui kebenaran tagihan yang dimaksud. 

"Pihak Bank Sejahtera mengatakan, BI checking saya jelek ada kredit macet, karena ada tunggakan utang pinjaman yang belum dibayar terhitung bulan Agustus 2017. Padahal waktu pelunasan cicilan ke Koperasi itu bulan Juli 2017. Soal kedatangan debt collector pihai koperasi mengatakan itu hanya mengecek kwitansi saja," paparnya.

Nyatanya, Nengsih mengaku kaget dan kecewa pelunasan hutang yang ia bayar ke Koperasi, ternyata berbeda dengan data yang ada di Bank Sejahtera.

 "Saya upayakan tabayyun menemui Koperasi. Mereka janji akan membereskan persoalan tersebut dengan pihak Bank yang menjadi mitra usahanya. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya," ungkapnya. 

Bahkan, kata Nengsih, pihak Bank Sejahtera kembali mengirim debt collector untuk yang kedua kalinya ke rumahnya. 

"Saya malu donk, dikira saya masih punya hutang banyak, berulang ditagih sama Bank. Padahal saya tidak punya hutang," sesalnya.

Saat didatangi kedua collector bank yang kedua kalinya itu, Nengsih memanggil pihak Koperasi, yang saat itu dihadiri Zaenal selaku manajer Koperasi Karyawan.

"Pihak bank yang saat itu dihadiri oleh manajemenya malah menyatakan ada 17 kwitansi pelunasan pinjaman Karyawan, yang diadukan nasabah Koperasi kepada Bank Sejahtera. Parahnya uang pinjaman yang dimaksud dinyatakan belum pernah diterima Bank dari pihak Koperasi," ungkap Nengsih.

Atas dasar itulah, Nengsih akan melaporkan pihak Koperasi kepada polisi lantaran merasa dirugikan. Tunggakan hutang pinjaman yang dinyatakan ada oleh pihak Bank Sejahtera, seharusnya tidak terjadi karena sebenarnya sudah ia lunasi setahun yang lalu kepada pihak Koperasi.

Sebulan yang lalu, Portaljabar sempat mendampingi korban, Nengsih, kw kantor koperasi yang ada di Gintungkerta Klari, Karawang.

 Saat itu, Kusnadi, selaku pegawai Koperasi berkali kali menyatakan uang setoran Nengsih sudah ia berikan kepada atasannya bernama Zaenal. 

Bahkan, Kusnadi malah mengaku merasa kaget namanya ikut terbawa kasus ini, lantaran menandatangani kwitansi bukti setoran pelunasan pinjaman Nengsih.

Tak hanya itu, seorang pria paruh baya, berkacamata yang rambutnya beruban, ikut membela Kusnadi, dan berdalih data setoran pelunasan korban sudah disetorkan bank sejahtera. 

Sementara, Nengsih bersikukuh,  saat menghubungi pihak Bank Sejahtera, BI Checking dan data Bank tersebut menyatakan dirinya dianggap masih menunggak cicilan. (Tar)

Related Articles