Efek Nilai Tukar Dolar, Pengrajin Tahu Di Majalengka Dilematis 

MAJALENGKA - Sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Majalengka mengeluhkan harga kedelai yang terus melonjak sementara mereka tidak bisa menaikkan harga penjualan tahu ataupun memperkecil ukuran tahu dan tempe.

Jika harga kedelai terus naik dikhawatirkan akan banyak perajin tahu dan tempe yang bangkrut seperti yang dialami perajin tahu di Desa Cisambeng, Kecamatan Palasah di tahun 2011 lalu.

Sementara itu bandar kedelai menyebutkan kenaikan harga kedelai paling signifikan lebih disebabkan oleh suplai yang kurang serta jika terjadi kenaikan harga BBM, sedangkan pengaruh kenaikan dolar relatif kecil walaupun kedelai hampir sepenuhnya diimpor dari Amerika karena impor dilakukan secara kontrak. Kini harga kedelai mencapai Rp 7.500 per kg.

Perajin Tahu di Desa Kulur, Kecamatan Majalengka Enggia dan Ani serta Sene, mengungkapkan kenaikan harga kedelai hampir setiap minggu terjadi. Semula harga kedelai hanya Rp 7.400 per kg naik menjadi Rp 7.450 per kg untuk kedelai kualitas sedang.

Menurut Sene yang setiap harinya menghabiskan kedelai sekitar 4,5 kw dengan mempekerjakan lima pedagang, jika harga kedelai terus naik sementara keratan tahu tidak dikurangi, kemungkinan akan bantak pedagang yang hanya bisa bertahan berjualan tanpa keuntungan yang cukup.  Sebaliknya jika keratan tahu dikurangi konsumen akan protes dan pedagang akan kehilangan pelanggan, karena pelanggan akan beralih ke tahu lain.

“Sulit memperkecil tahu, mereka pasti protes. Itu pernah dilakukan Tahun 2015 lalu ketika harga sempat melambung, akhirnya keratan tetap dipertahankan agar pembeli tidak lari ke pedagang lain,” kata Sene, Sabtu (08/09/2018).

Pemasaran tahu Sene kini ke wilayah Cirebon, sebagian untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tahu gejrot, pasar Prapatan serta sejumlah apsar di Kabupaten Majalengka.

“Kami buat beragam rasa tahu, ada untuk tahu isi, ada tahu biasa ada serta tahu untuk tahu gejrot khas Cirebon,” ungkap Sene.

Hal yang sama disampaikan Ani yang setiap harinya menghabiskan 1,5 kw kedelai. Dia mengaku terus berupaya mempertahankan usahanya walaupun harga kedelai terus melonjak setiap pekan.

“Kenaikannya hampir setiap saat, harga kedelai tidak terkendali,” ungkap Ani.

Enggia perajin tahu lainnya mengaku terakhir belanja kedelai sebanyak 7 tonan disaat harga masih Rp 7.300.

“Kalau dolar terus naik maka kedelai akan ikut naik secara otomatis karena kedelai yang dipergunakan untuk pembuatan tahu adalah kedelai impor dari Amerika,” ungkap Enggia.

Sementera itu seorang bandar kedelai di Majalengka Rudi mengungkapkan, kenaikan harga dolar terhadap rupiah pengaruhnya tidka terlalu signifikan terhadap kenaikan harga kedelai, karena impor kedelai dilakukan secara kontrak setahun sekali. Sehingga harga telah ditetapkan pada saat kontrak kerja dilakukan.

“Kalaupun ada pengaruh dolar kenaikannya kecil. Yang besar pengauruhnya terhadap kenaikan kedelai adalah kenaikan BBM atau akibat permintaan pasar yang cukup tinggi. Lonjakan harga kedelai seperti ini menurutnya pernah dialami di tahun 2015 lalu,” ungkap Rudi.

Saat ini harga kedelai mencapai Rp 7.500 per kg, sebelumnya harga kedelai hanya mencapai Rp 7.400 per kg.

Rudi menyebut, dolar tidak terlalu berpengaruh terhadap kenaikan harga kedelai ini pasalnya ketika harga dolar tembus Rp 14.300 pada 10 Juli lalu, ternya harga kedelai tetap stabil tidak terjadi kenaikan seperti saat ini.

Sementara itu di Sentra Pengrajin Tahu Talaga di Desa Talaga Wetan Kecamatan Talaga sejumlah Pengrajin Tahu belum menentukan sikap terhadap kenaikan nilai tukar dollar yang menyebabkan bahan baku Tahu yang 90 persen menggunakan kedelai impor harganya naik. 

"Masih menunggu perkembangan,  mau menaikan harga tidak mungkin karena pelanggan akan pindah ke pabrik Tahu lain,  mungkin memperkecil ukuran Tahu, "ungkap Yayan salah seorang pemilik Pabrik Tahu di desa Talaga Wetan. (Man) 
 

Related Articles