Pakai Cara Tradisional, Produksi Rokok Kretek Mampu Tembus 225 Batang Per Jam

CIREBON - Meski masih menggunakan alat manual, di tangan pelinting seorang perempuan asal Bojonegoro ini mampu memproduksi 225 batang rokok dalam satu jam. Dia menggunakan sebuah alat bernama mini silo lah sebuah cita rasa rokok sigaret kretek khas Indonesia tercipta.

Kegiatan melinting rokok ini ternyata sudah ada sejak awal produksi rokok, yakni sekitar tahun 1600an. Saat itu, rokok masih belum dikenal sebagai barang dagangan.

Namun, sejak tembakau dicampur dengan berbagai rempah dan saus, rokok menjadi barang dagangan yang penting, dan munculah para pelinting rokok.

Para pelinting rokok ini mayoritas adalah kaum wanita, Seperti Siti Umayah (38). Dipilihnya wanita karena pekerjaan melinting rokok ini pekerjaan ringan meski butuh ketelatenan khusus. Sedangkan untuk pria biasanya khusus untuk mengolah racikan tembakau.

“Untuk melinting rokok sendiri biasanya akan ditraining dahulu selama tiga bulan, seperti takaran tembakaunya, cara ngelemnya dan ukuran batang rokoknya. Karena rokok kretek memiliki dimensi berbeda antara lubang isap dan lubang baranya," kata Siti kepada Portaljabar.net saat  di sela kegiatan Wismilak Pentas Tradisi di Lapangan Makorem 063/Sunan Gunung Jati, Kota Cirebon Minggu (9/9/2018).

Menurutnya, proses melinting rokok adalah yang pertama kali menyiapkan tembakau yang sudah dicampur dengan cengkeh serta saus, kertas penggulung rokok (papir) atau lebih di kenal dengan sebutan ambri.

Ambri tersebut diolesi lem dari tepung kanji, agar tembakau menempel di kertas gulung dan lem pun tidak berasa karena terbuat dari tepung.

Kemudian, kertas gulung dimasukkan ke mesin penggiling, dan diberi tembakau.

Menurut Siti, dalam memasukkan tembakau ini tidak bisa sembarangan. Komposisi tembakau di bagian ujung atau bagian yang biasa dibakar, harus lebih padat tembakaunya dibandingkan lubang hisap (ujung rokok). Kemudian tarik tuas dan gulungan berupa rokok pun langsung jadi.

Dalam satu jam, ia bisa menghasilkan 225 batang rokok. Hal tersebut sudah biasa bagi Siti yang sudah lama menjadi pelinting rokok di pabrik rokok kretek, yakni sejak tahun 2005.

“Sebenarnya tidak sulit melinting. Hanya saja kadar tembakaunya yang menentukan cita rasa dari kualitas rokok tersebut saat digulung,” jelasnya.

Saat ini, di pabrik rokok di tempat asalnya, yakni Bojonegoro, terdapat sekitar 700 pelinting yang semuanya wanita. Mereka bekerja sesuai dengan jam kerja, yakni 8 jam sehari.

“Kalau jenis rokok kretek, memang masih menggunakan mesin manual. Beda dengan rokok yang sudah ada filternya atau lebih di kenal dengan SKM (sigaret kretek mesin), yang sudah menggunakan mesin otomatis,” pungkasnya. (Jhn)

Related Articles