Polda Jabar Ungkap Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Skala Besar

BANDUNG – Jajaran Ditreskrimsus Polda Jabar, berhasil membongkar dan menangkap seorang tersangka penyalahgunaan BBM Solar Bersubsidi dalam skala besar, di Jl Fatahilah, Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, pada Kamis (6/9) lalu.

Tersangka Ded, 49 th, selaku Direktur Utama PT Ferse Mandiri Sejahtera, diboyong ke tahanan Polda Jabar, bersama sejumlah barang bukti. Antara lain 4 unit kendaraan Truk Tangki, 8000 liter Solar Bersubsidi, 2 buah tangki Bahan Bakar original, 23 lembar struk pembelian di SPBU Pangenan, 11 lembar struk pembelian di SPBU Gebang, 6 lembar struk pembelian di SPBU Gempol dan beberapa alat bukti lainnya.

Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto, di Markas Polda Jawa Barat, Jalan Sukarno Hatta, Bandung, menjelaskan, tersangka Ded telah meraup keuntungan dalam jumlah besar dari selisih harga hasil pembelian dan penjualan ke sejumlah perusahaan industri.

“Keuntungan tersangka rata mendapat 200 juta rupiah perbulannya. Menurut pengakuannya sudah lima bulan beroperasi. Tapi nanti kita cek lagi”, ujar Kapolda Budi Maryoto.

Dalam kasus seperti ini, menurutnya, akan dikembangkan kasusnya untuk mengetahui keterlibatan orang-orang SPBU atau tidak. Mengingat tersangka, melakukan pembelian ke setiap SPBU selalu dalam jumlah besar, mulai 3.000 liter, 6.000 liter atau 8.000 liter.

Untuk mengelabui kecurangannya tersebut, tersangka sengaja menggunakan mobil tangki air, dengan memasang pompa untuk memindahkan Solar Bersubsidi ke Tangki Penyimpanan di Gudang Jl Fatahilah, Desa Megu, Kec Weru, Kabupaten Cirebon.

Kendaraan Tangki Air utk mengelabui perkeliruan Angkutan BBM Solar/Dahen/PJ

 

Selanjutnya pada saat menjual, tersangka menggunakan kendaraan Tangki Transportir bertuliskan PT. Andika Pradana Jaya.

Ditreskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Drs Samudi, saat mendampingi Kapolda  turut menjelaskan, tersangka menjual BBM Solar Bersubsidi ke perusahaan industri seharga 7.300 rupiah perliter. Semula membelinya dari SPBU seharga 5.150 rupiah. Satu minggu rata-rata sebanyak 3 kali dan setiap penjualan jumlahnya sebanyak 8.000 liter.

Atas kasus tersebut, tersangka dijerat Pasal 55, Undang-undang RI No. 22 Th 2001, tentang Minyak dan Gas Bumi. Acaman hukuman pidana penjara selama 6 tahun dan denda paling tinggi 60 milyar rupiah. (Dahen)

Berita Terkait

Related News