Keluhan Pengusaha UMKM Tekstil Kepada Menperin

BANDUNG – Para pelaku usaha UMKM Komunitas Pangsa Pasar Tekstil dan Produksi Tekstil (TPT) Majalaya, mengadukan persoalan aktual kenaikan harga bahan baku tekstil, kepada Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto ketika berkunjung ke UPT Tekstil Majalaya, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

“Kenaikan harga tersebut tentu tidak seiring dengan kenaikan harga jual hasil produksi. Disisi lain sangat sulit untuk menyesuaikan dengan bahan baku. Mengingat bahan baku merupakan komponen terbesar hingga 40% dari HPP”, kata Aep Hendar, Ketua Umum TPT Majalaya. 

Aep juga mengeluhkan banyaknya pelaku industri di Majalaya dan sekitarnya dengan menurunnya Potensi UMKM. Seperti mahalnya  bahan baku benang tenun, suku cadang, dan biaya produksi yang berimbas pada harga jual produk. Hal tersebut juga dipengaruhi dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. 

“Beberapa anggota kami telah mengurangi kapasitas produksinya, ada yang telah mengurangi kapasitas produksi, ada yang sudah berhenti sementara menunggu harga stabil, dan sementara sebagian karyawan juga kami rumahkan”, tambahnya.

Menjawab permasalahan itu, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto menghimbau agar TPT Majalaya khususnya mampu meningkatkan produktivitas.  

“Dengan adanya pelemahan rupiah, maka semua bahan baku yang berbasis import sudah pasti naik. Tentunya salah satu cara untuk memitigasi kenaikan itu dibebankan ke konsumen atau dengan meningkatkan produktivitas”, jelasnya.

“Kalau harga ini kan tergantung harga internasional, jadi pada saat kenaikan maka harga domestik juga sudah pasti naik. Salah satunya kapas kan kita import dan kalau poliester sebagian dari dalam negeri, rayon bisa menjadi alternatif yang akan diproduksi oleh nasional. Tentunya switching dari material kapas, poliester dan rayon dikombinasikan untuk memitigasi perubahan cost”, tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jabar, Iwa Karniwa menuturkan bahwa industri tekstil masih memiliki potensi yang sangat besar untuk tumbuh dan berkembang pada masa depan. Oleh karena itu, berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) pada 2015-2035, sektor ini diprioritaskan dalam pengembangannya agar mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional.

Pada kesempatan kali ini, menurut Iwa, merupakan  salah satu langkah pemerintah untuk mendorong dan memajukan industri tekstil dan produk tekstil dalam menerapkan produksi bersih di industrinya. 

“Sehingga meningkatkan daya saing produknya di pasar lokal maupun luar negeri, tentu dengan meningkatkan efektifitas produksi walaupun harga bahan baku yang juga tinggi”, ujar Iwa turut berusaha menenangkan para pelaku usaha PTP.

Provinsi Jawa Barat mempunyai peranan penting dalam  perekonomian national. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat, memberikan kontribusi tertinggi ketiga sebesar 14.88%, setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur pada Produk Domesti Bruto (PDB) Nasional.

Perkembangan pangsa pasar ekspor Jawa Barat pada akhir 2017, disumbangkan oleh subkelompok tekstil dan produk tekstil (19,8%), diikuti oleh kendaraan bermotor (17,5%), elektronik (17,4%), dan kimia (7,0%). Namun demikian, panga pasar ekspor TPT terus mengalami penurunan, dimana angka tertinggi ekspor TPT dicapai pada tahun 2000 sebesar 25,44%. (dahen)
 

Related Articles