Hari Batik Nasional Tak Pengaruh Bagi Penjual Batik Cirebon

CIREBON - Hari Batik Nasional seharusnya pasar batik di Cirebon ramai dikunjungi masyarakat. Hal itu benar-benar tidak dirasakan oleh sejumlah pasar batik trusmi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.

Seperti diketahui sejak diresmikan 14 April 2015 oleh Gubernur Jawa Barat, saat itu, H. Ahmad Heryawan, kondisi pasar batik trusmi yang berlokasi di samping Halan By Pass Weru, masuk wilayah Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, hingga kini masih sepi pengunjung.

Kalaupun ada sedikit lonjakan pengunjung, hanya terjadi pada hari-hari libur nasional saja. Selebihnya, pada hari-hari biasa sejumlah pedagang hanya gigit jari karena sepi pembeli.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pedagang lebih memilih menutup kiosnya ketimbang hanya membuang-buang biaya operasional termasuk biaya retribusi keamanan dan kebersihan.

Menurut pedagang sekaligus pengrajin batik asal Trusmi Kulon, H. Kanduji (64), kondisi itu terjadi akibat minimnya promosi yang dilakukan Pemkab Cirebon.

"Sampai sekarang masih belum ada kemajuan, minat pembeli datang ke sentra batik trusmi juga semakin menurun. Saya tidak tahu, Pasar ini mau dibagaimanakan oleh pemda," katanya, Selasa (02/10/2018).


Padahal, pasar tersebut dibangun untuk menampung para pengrajin batik Trusmi. Namun karena sepi pembeli, lambat laun para perajin lebih memilih bekerja membatik di rumah ketimbang membuka kios dagangannya.

"Banyak kios yang tutup, itu karena tidak ada ketegasan dari pemda. Sebenarnya saya ingin ada ketegasan dari pemda," ujarnya.

Ketegasan yang dimaksud, menurutnya selain membuat pasar batik agar ramai pengunjung, pemilik kios Batik Ahmad Haris itu juga meminta agar pemda membuat aturan yang tegas bagi para pemilik kios yang sudah lama tutup.

Pasalnya, lanjut Kanduji, masih banyak para pedagang yang masuk dalam daftar tunggu menempati kios dengan system sewa itu. Saat ini, kendati namanya Sentra Batik Trusmi, namun faktanya persentase batik Trusmi yang dijual dipasar tersebut hanya 25 persen. Sedangkan 75 persennya merupakan batik dari luar Trusmi, yakni batik Pekalongan.

"Awalnya sih iya, 75 persen batik trusmi, yang 25 persen itu batik pekalongan. Tapi sekarang sebaliknya, justru malah batik pekalongan yang lebih banyak," katanya. (abr

Tags:

Berita Terkait

Related News