Jelang Sumpah Pemuda, Narasi Sejarah Generasi Milenial Menurut Politisi PDIP Dea Eka Rizaldi

KARAWANG- Menurut Politisi PDIP Karawang, Dea Eka Rizaldi, pemuda mempunyai tempat istimewa dalam narasi sejarah dan politik Indonesia. Tidak ada peristiwa penting di negeri ini yang tidak melibatkan pemuda, mulai dari pembentukan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Revolusi Agustus 1945, sampai mundurnya Soeharto sebagai presiden pada Mei 1998.

“Mereka para pemuda hadir sebagai kekuatan yang berjasa menyelamatkan negeri dari marabahaya dan mengantar masyarakat ke gerbang kehidupan yang adil dan makmur,” menurut Dea.

Narasi seperti ini menurut Dea, biasa menguat di masa krisis, ketika kekuatan-kekuatan sosial lain seperti buruh dan petani atau borjuis dan kelas menengah tidak mampu mengendalikan keadaan. Gagasan "potong generasi" yang intinya menuntut kekuasaan diserahkan kepada kaum muda adalah salah satu bentuk paling mutakhir.

“Klaim itu tentu saja mengandung kebenaran. Dalam semua peristiwa politik yang disebutkan di atas, peran pemuda memang sangat menonjol, jauh melampaui kekuatan-kekuatan sosial lain, apalagi partai politik,” ucapnya. 

Namun, menurut Dea orang kerap lupa bahwa keadaan itu tidak selalu direncanakan. Tidak semua pemuda ingin memenuhi "panggilan sejarah". Keterlibatan dalam politik atau perjuangan, bukan karena ada kualitas tertentu yang inheren dalam diri setiap pemuda, tapi karena situasi tertentu. Bobot dan peranan yang sering melekat pada kata "pemuda"-misalnya, "pemuda harapan bangsa"-itu diberikan oleh pihak lain dan belum tentu meresap dalam kesadaran para pemuda sendiri.

Lanjut Dea tidak semua orang berusia muda mengidentifikasi diri sebagai "pemuda" atau senang disebut "pemuda", justru karena atribut moral dan politik yang melekat padanya. Mereka mungkin lebih nyaman dengan sebutan netral seperti "anak muda", karena istilah ini bebas dari campur tangan otoritas di luar mereka. Dengan kata lain, istilah seperti "anak muda" lebih memberi agency kepada yang bersangkutan ketimbang "pemuda" yang makna dan tempatnya ditentukan oleh pihak lain. 

Dalam perjalanan sejarah, berulang kali melihat bagaimana orang berusia muda meronta dan berontak terhadap intervensi itu. 

“Justru pemberontakan inilah, setidaknya dalam beberapa kasus, menjadi tanda bahwa mereka hidup secara politik. Jauh lebih hidup daripada kalau mereka memenuhi panggilan sejarah sekadar menjadi "pemuda harapan bangsa",” jelasnya.

Masalahnya kata Dea, pembentukan ideologi di kalangan anak muda itu kerap dinafikan. Sejarah memotret pemuda sebagai orang yang senantiasa berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa. Sesuatu yang sangat abstrak.

Padahal, senyatanya pembentukan ideologi pemuda sangat konkret sekaligus kompleks. 

Lanjut Dea persoalan yang terus-menerus melanda Pemuda Indonesia hingga detik ini ialah bagaimana mereka menempatkan diri dalam dunia yang didominasi oleh "kelompok orang tua". Hal ihwal ini selalu memunculkan dikotomi dalam terminologi sejarah dan politik Indonesia, lewat istilah "golongan kamitua" dan "golongan muda".

“Kesenjangan generasi (generation gap) yang berlangsung di antara mereka, yakni tatkala kaum kamitua tak mampu lagi mengakomodasi keinginan dan aspirasi kaum muda. Kaum kamitua sangat berhasrat memaksakan keinginannya kepada kaum muda, sesuai dengan idealisasi mereka sendiri, sehingga yang muncul adalah kooptasi kaum kamitua terhadap kaum muda,” ujarnya.

Menurut para orang tua, anak-anak muda masa itu perlu meneladani generasi muda sebelumnya, biasanya yang dirujuk Angkatan 1945 yang tiada lain adalah generasi mereka sendiri. Generasi 45 diidealisasikan sebagai generasi pejuang nan patriotik tanpa pamrih dengan semangat 45 sebagai suluhnya.

“Romantisasi semacam itulah yang hendak mereka terapkan untuk anak-anak muda masa Orba. Generasi muda diharapkan bisa melanjutkan estafet generasi sebelumnya yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan mengisi pembangunan bangsa di alam kemerdekaan,” ucapnya.

Akhirnya menurut Dea, masalah ini menyisakan problematika tersendiri bagi anak-anak muda.

“Bukankah ada jarak waktu antara generasi kamitua dan generasi muda? Generasi muda punya cara sendiri untuk menghadapi zaman yang tentu saja sangat berbeda dengan zaman generasi tua. Orang tua mungkin lupa, bahwa selalu ada zeitgeist (jiwa zaman) yang membentuk karakter setiap generasi,” tandasnya. (Uya)

Berita Terkait

Related News