HAKI, Perlindungan Hak Cipta Yang Masih Lemah

PORTALJABAR.NET-Di era modern ini, pembajakan Hak Cipta sudah bukan hal yang aneh, apalagi di Indonesia ini perlindungan Hak Cipta memang masih lemah. Sudah menjadi rahasia umum, pembajakan terjadi dimana-mana, tidak hanya di daerah pelosok di Indonesia, perusahaan kantoran pun sekarang sudah banyak yang memakai software ilegal. 

Maraknya penyalinan ilegal oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menyebabkan banyaknya pemilik hak cipta merasa sangat dirugikan, karena karya yang mereka susah payah dibuat, tersebar begitu saja tanpa mendapatkan royalti. 

Di sisi lain Mungkin sebagian besar, masalah harga adalah poin utama bagi pelaku pengguna barang ilegal. Akan tetapi, apakah dengan masalah harga yang memang jauh di atas barang ilegal, lantas kita harus mencuri hak karya orang lain?

Opini ini dibuat untuk mengingatkan dan mengajak masyarakat agar malu mencuri hak karya orang lain yang dibeli secara ilegal dan sangat merugikan, tidak ada salahnya kita merelakan beberapa rupiah untuk membeli hasil karya orang lain secara legal, dan yang pasti untuk kemajuan negara kita ke arah yang lebih baik

Pelanggaran terhadap kekayaan intelektual yang dimiliki perorangan atau kelompok sama saja melanggar hak dari pemilik intelektual tersebut. Jika ingin lebih didramatisasi, pelanggaran terhadap kemampuan intelektual seseorang atau kelompok sama dengan tidak menghargai keaslian suatu karya. Hal itu adalah kata lain dari ‘kepintaran’ yang disepelekan. Hal-hal bersifat prinsip-prinsip itulah yang kemudian menjadi landasan hadirnya istilah HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) di Indonesia.

Kekayaan intelektual yang dilindungi oleh HAKI meliputi dua hal, yaitu perlindungan hak terhadap benda tidak berwujud seperti hak cipta suatu karya, hak paten, dan hak merk dagang tertentu serta perlindungan hak terhadap benda berwujud seperti informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan karya seni atau karya sastra.

Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) adalah hak eksklusif yang diberikan suatu peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Secara sederhana HAKI mencakup Hak Cipta, Hak Paten dan Hak Merek. Pada Pasal 1 ayat 1 dalam UU Nomor 19 Tahun 2002 mengenai hak cipta, tertulis ‘Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

Pasal ini sudah sangat jelas mengatakan bahwa semua hasil karya seseorang (pencipta) diberikan hak untuk memperbanyak ciptaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun praktiknya kini banyak penggelapan hasil karya pencipta yang di ambil atau di bajak tanpa persetujuan sang pencipta.

Pemahaman HKI yang kurang tepat juga berkaitan dengan prasangka bahwa HKI hanya akan menguntungkan negara-negara maju dan menghambat negara-negara berkembang dalam mengakses teknologi dan informasi. Persoalannya sekarang bukan pada akses teknologi dan informasi, akan tetapi kecenderungan yang terjadi di dunia saat ini adalah adanya persaingan dagang yang ketat antara negara yang satu dengan negara lain. 

Saat ini sudah bukan masanya lagi bagi Indonesia hanya menggantungkan pada industri yang berbasis pada sumber daya alam yang semakin lama semakin berkurang jumlahnya. Oleh karena itu Indonesia juga harus mengembangkan industri yang berbasis pada kemampuan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif karena industri yang paling besar memiliki peluang untuk bersaing di pasar global salah satunya adalah industri yang berbasis pada HKI. (tif).

Ditulis oleh Muhammad Hazim
 

Tags:

Berita Terkait

Related News