"Kisah 30 Hari Mencari Beasiswa Doktor"

Penulis : Gugun Gumilar


PORTALJABAR.NET-Karena banyak sekali request tentang beasiswa luar negeri S1, S2 dan S3, hari ini saya share pengalaman tersebut. Semoga bermanfaat bagi anak-anak muda di Indonesia.

Tepatnya pada bulan Maret tahun 2018 lalu, saya mulai melamar beasiswa Doktor dari kampus-kampus dunia. Kurang lebih saya melamar 30 aplikasi beasiswa di Amerika, Eropa dan Australia. Biasanya persyaratan untuk beasiswa dan aplikasi Doktor itu 1-2 tahun, atau paling cepat 6 bulan. Tetapi, Alhamdulilah ini sudah takdir dan jalan hidup saya dalam 1 bulan mendapat beasiswa dari Eropa dan Amerika.

Langkah pertama saya niatkan S3 ini bukan untuk mencari gelar, akan tetapi saya niatkan untuk menacari ilmu dan ridho-Nya. Sebab yang paling utama itu adalah niat yang lurus serta istiqomah. Kedua, saya berpikir bahwa keilmuan S2 ini belum cukup dari Amerika untuk membangun masyarakat ke depan. Pengalaman selama 2 tahun di Amerika, hanya modal dasar keilmuan berbasis leadership dan building a network. 

Saya berpikir, Indonesia butuh anak-anak muda pada 50-100 tahun ke depan untuk membangun peradaban, keilmuan serta kejayaan masyarakat Indonesia itu sendiri di kancah global. Pada zaman now ini, ijazah seperti SMA dan S2 di ibaratkan seperti S1. Kalau kita tidak memiliki pribadi intelektual, leadership, network, bahasa, inovasi dan karya, maka kita akan tertinggal jauh.

Saya meyakini, bahwa persaingan di era 4.0 kita bersaing bukan hanya misalnya orang Garut dengan orang Madura, orang Papua dengan orang Padang, melainkan kita akan bersaing dengan orang-orang hebat dari California, New York, London, Dublin, Berlin, Paris dan lain-lain. 

Semangat ini saya tanamkan dan kokohkan dalam diri, agar kita mampu bersaing dengan dunia Barat sehingga kita menjadi bangsa "Pemenang" bukan "Pecundang" untuk 100 tahun ke depan. Ayo! kita pikirkan bersama-sama, not only me but you! 

Jika anda merasa minder, itu lagu lama. Saya juga orang kampung, di mana orang tua tidak sekolah. Namun, itu bukan alasan! Zaman canggih saat ini, muda berkarya dan open your mind.

Meanwhile, aplikasi saya siapkan sama seperti halnya pada kuliah S2. Dokumen yang disiapkan adalah ijazah S1 dan S2 beserta transkrip nilai. Tiga surat rekomendasi baik proposal riset, CV, TOEFL/IELTS dan surat motivasi diri. Setelah itu, saya kirim ke-30 kampus dunia. 

Saya selalu yakin, InsyaAllah menang dan saya siap tarung dengan para pelamar lain di dunia. Memang tanggung waktunya saat melamar yaitu bulan Maret. Sebaiknya, jika anda ingin melamar beasiswa yaitu mulailah sejak bulan Oktober-Februari. Itu waktu yang tepat untuk melamar beasiswa sekolah.

Bagaimana sih tipsnya ? Yuk lanjutkan ke bawah!

Salah satu tips beasiswa adalah kita mampu meyakinkan pihak institusi dan pemberi beasiswa, bahwa kita (pelamar) merupakan orang yang layak mendapatkan beasiswa. Jangan stres, biasakan kita berdoa dan terus berlatih membuat riset proposal. 

Pengalaman saya saat interviews via Skype dengan Professor di Amerika dan Eropa, saya di sidang mengenai keilmuan dan leadership. Jangan ragu, percaya diri dan optimis itu kunci sekolah di luar negeri. Disamping itu, kita harus punya test kemampuan akademik bahasa TOEFL/IELTS. Biasanya, saya latihan di Youtube dan baca-baca buku. 

Tips yang kedua, selain kemampuan intelektual akademik S1 dan S2, kita harus punya non-akademik skills. Keilmuan di kelas dengan dosen hanya 10-20 %, sisanya adalah diluar jam kelas dan luar kampus. 

Professor saya bilang, “Gugun, CV kamu banyak kegiatan-kegiatan Nasional dan Internasional dalam bidang kepemudan serta kegiatan sosial/pengabdian masyarakat. Jadi, kampus dan pemberi beasiswa itu bukan hanya menilai kemampuan akademik, tapi melihat juga kepribadian kita (misalkan leadership, social activities, dan integritas). 

Siapkah kamu? Jawabannya harus siap!

Jadi, saat kuliah janganlah hanya “Duduk, Diam dan Datang” ke kampus dan agar lulus cepat. Itu salah! 

Ijazah hanya akan mengantarkan kita ke meja interview. Tapi, kalau kita punya akademik yang baik, leadership yang bagus, inovasi yang kreatif, dan network yang unggul, maka InshaAllah kita akan lulus menerima beasiswa S2 dan S3. 

Alhamdulilah, semangat ini saya selalu gunakan dan kita bersaing dengan dunia global. Alhasil, dalam 1 bulan saya mendapat 2 beasiswa yaitu Amerika dan Eropa. Namun, saya pilih Eropa. 

Catatatan : Kampus itu bukan nyari yang bergengsi, tapi kita sendiri yang membuat gengsi untuk kampus, bangsa dan negara.

In line with this, saya punya kabar gembira dari Dublin bahwa Kemenristekdikti berkunjung ke Dublin City University (DCU) dalam rangka peningkatan kualitas mutu SDM masyarakat Indonesia. Kemenristekdikti akan mengirimkan putra putri terbaik bangsa untuk sekolah di berbagai kampus di Dublin, salah satunya adalah kampus saya di DCU. 

Tahun ini, Kemenristekdikti akan kembali mengirimkan 300 orang Mahasiswa/Mahasiswi Indonesia ke luar negeri. Bagi yang berminat, silahkan ikuti prosedur melalui website : https://ristekdikti.go.id ataupun juga bisa melalui program beasiswa di kampus saya yakni melalui website : https://www.dcu.ie.

Finally, pesan saya bagi yang mau lanjut sekolah S1, S2 dan S3 di luar negeri : 

"Scholarship is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying, reading, sacrifice and most of all. Three choices in your life : Give up, give in, or give it all you've got". 

Selamat berbahagia dan mencoba beasiswa. Jika ada yang ditanyakan, silahkan atau hubungi dosen-dosen anda di kampus ! Salam Gugun, Dublin, 21 Maret 2019.

Tags:

Berita Terkait

Related News