Kantor Pertamina Coblong Bandung Didemo Buruh 

BANDUNG - Buruh pada akhirnya akan selalu menjadi kelas yang rentan dan tak memiliki kepastian akan kehidupan masa depannya. Mereka akan dibayang-bayangi oleh ketidakpastian kerja, ketidak pastian upah, dan penghilangan jaminan sosial dan jaminan pensiun.

Belakangan ini ramai diberitakan dua mobil tangki yang "dibajak" pada hari Senin (18/03/2019) kemarin yang dibawa oleh massa Pekerja Awak Mobil Tangki (AMT) ditengah-tengah aksi di depan istana.

BACA JUGA : Cabut Izin Lingkungan Proyek Rumah Deret Tamansari !

Dari latar belakang tersebut Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP) dan Komite Solidaritas Perjuangan Buruh (KSPB) melakukan Aksi solidaritas di Kantor Cabang PT. Pertamina, Coblong Bandung, Senin (25/03/2019).

Pemberitaan tentang "dibajak" nya mobil tangki yang gempar tersebut berhasil menutupi kenyataan sebenarnya yang dialami oleh para pekerja AMT sendiri.

"Dalam hal tersebut, Kata "Dibajak" yang disiarkan beberapa media nampak begitu berlebihan. Pasalnya, dua mobil yang akan melakukan pengisian di SPBU Tangerang hanya dialohkan rutenya ke tengah-tengah massa aksi di Taman Pandang, Kawasan Monas, Jakarta Pusat tanpa sedikitpun mengurangi Isi BBM di dalam tangki dan merusak mobil Tangki" ungkap Ilo mengklarifikasi mengenai kasus tersebut.

Aksi pengalihan rute dua mobil tangki berujung dengan diskriminalisasinya 14 orang pengurus serikat dan pekerja Awak mobil. Dan 2 orang telah ditetapkan sebagai tersangka atas pasal 365 dan 368 KUHP (pencurian dan pemaksaan/pemerasan dengan ancaman)

Selain dari kasus tersebut, pekerja buruh AMT pun dialihkan kontraknya ke perusahaan ousourcing pada tahun 2012 silam. Pekerjaan buruh AMT merupakan pekerjaan inti sehingga berdasarkan ketentuan pasal 64,65,66 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenaga Kerjaan tidak dapat dilakukan dengan status alih daya (Outsourcing).

BACA JUGA : Pemerintah Fokus Bangun Infrastruktur Dan Peningkatan SDM Hingga Mengeluarkan Dana Rp 320 Triliun

Berbagai macam bentuk perjuangan untuk menuntut haknya telah dilakukan oleh pekerja AMT dari gugatan secara hukum,long march sejauh 150 KM, hingga pemogokan, dan itu dilakukan setiap tahunnya.

Hingga pada bulan Desember 2018 tak kunjung respon, para pekerja AMT melakukan aksi mengubur diri di depan istana Negara. (MFS)

Dalam aksi solidaritas tersebut, dari pihak Pertamina Cabang Bandung sendiri tak kunjung menemui para masaa aksi hingga beralih ke Polretabes untuk menunjukan aksi kekecewaan terhadap elemen-elemen Pertamina yang tak kunjung berpihak kepada Pekerja buruh AMT dengan kampanye dan menuntut :

1. Hentikan kriminalisasi terhadap para pekerja Awak Mobil Tangki (AMT).
2. Pekerjakan kembali para pekerja AMT sebagai pegawai tetap dan penuhi hak-hak normatifnya.
3. Hentikan Kriminalisasi Terhadap Pejuang Buruh.
4. Hapuskan Sitem kerja Outsourcing.
5. Cabut PP 78 tentang pengupahan.

Tags:

Berita Terkait

Related News