21 Orang Tewas Saat Pasukan Pemberontak Hendak Kuasai Tripoli

INTERNASIONAL - Sebelumnya PBB telah meminta agar dilakukan gencatan senjata selama dua jam agar korban dan warga sipil dapat dievakuasi, namun pertempuran terus berlanjut.

Pasukan pemberontak pimpinan Jenderal Khalifa Haftar terus bergerak dari wilayah timur dengan tujuan mengambil alih Tripoli.

Perdana Menteri Libia, Fayez al-Serraj menuduh Haftar berusaha melakukan kudeta dan mengatakan pemerintah akan menghadapinya dengan kekuatan militer.

Di antara korban sipil yang tewas adalah seorang dokter dari organisasi Bulan Sabit Merah yang terbunuh, Sabtu lalu.

Sementara pasukan militer Jenderal Haftar mengklaim pihaknya kehilangan 14 orang pasukannya.

Pasukan internasional mulai mengevakuasi personelnya dari Libia di tengah situasi keamanan yang terus memburuk.

Libia hancur-lebur akibat kekerasan dan ketidakstabilan politik semenjak penguasanya, Muammar Gaddafi, digulingkan dan dibunuh pada 2011.

Bagaimana situasi di lapangan?

Pasukan Nasional Libia (LNA) pimpinan Jenderal Haftar telah melakukan serangan serempak dari wilayah selatan dan barat Tripoli sejak Kamis (4/4) lalu.

PBB sudah menyerukan gencatan senjata demi alasan kemanusiaan, namun diabaikan oleh kedua pihak.

Sampai sejauh ini, menurut juru bicara PBB kepada kantor berita AFP bahwa mereka "masih mengharapkan tanggapan positif".

Pada hari Minggu (7/4), LNA mengklaim telah melakukan serangan udara pertama, sehari setelah Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), yang didukung PBB, memukul mereka dengan serangan udara pada hari Sabtu.

Pertempuran berlanjut di sekitar bandar udara internasional yang tidak digunakan di wilayah selatan ibu kota, yang sebelumnya diklaim sudah dikuasai pasukan Jenderal Haftar.

Pasukan yang setia kepada GNA memperlambat serangannya dan pada hari Minggu, dan juru bicara GNA mengatakan kepada Al-Jazeera TV bahwa GNA saat ini akan melakukan "pembersihan" seluruh negeri dari gangguan Haftar.

Evakuasi seperti apa yang sudah dilakukan?

Pasukan AS di Afrika, yang bertanggung jawab atas operasi militer AS dan penghubung di Afrika, mengatakan karena ada "eskalasi peningkatan kekerasan" di Libia, pihaknya sudah memindahkan pasukan AS untuk sementara waktu, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang jumlahnya.

Ada laporan tentang penggunaan kapal amfibi cepat yang digunakan dalam operasi tersebut.

Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj, mengatakan, semua kontingen dari 15 negara penjaga perdamaian telah dievakuasi dari Tripoli karena "situasi di Libia tiba-tiba memburuk".

Perusahaan minyak dan gas multinasional Italia, Eni, memutuskan untuk mengevakuasi semua personelnya yang sebagian besar adalah warga negara Italia.

PBB juga akan menarik stafnya yang dianggap tidak berperan penting dari negara itu.

Sementara warga Tripoli dilaporkan mulai menimbun makanan dan bahan bakar.

Sebastian Usher mengatakan banyak dari mereka yang berada di dekat lokasi pertempuran masih tinggal di rumah mereka, karena takut terjadi penjarahan.

Siapa yang berdiri di barisan pemberontak?

Libia telah dilanda kerusuhan semenjak penggulingan Kolonel Gaddafi.

Lusinan kelompok milisi masih beroperasi di negara itu dan mereka bekerjasama dengan GNA yang didukung PBB, serta basis mereka ada di Tripoli.

Adapun Jenderal Haftar, adalah tokoh yang berada dalam barisan anti-kelompok Islamis, yang mendapat dukungan Mesir dan UEA. Mereka memiliki kekuatan di wilayah Libia bagian timur.

Jenderal Haftar membantu Kolonel Gaddafi saat merebut kekuasaan pada 1969 sebelum mereka digulingkan dan dia memilih pergi mengasingkan diri di AS.

Dia kembali pada 2011 silam setelah pemberontakan melawan Gaddafi mulai digencarkan dan dia menyebut dirinya sebagai pemberontak.

Pemerintah persatuan diciptakan pada perundingan tahun 2015, tetapi mereka masih terkendala dalam upayanya melakukan kontrol dalam lingkup nasional.

Perdana Menteri Fayez al-Serraj menyampaikan pidatonya melalui siaran TV pada hari Sabtu, dengan mengatakan bahwa dia akan mempertahankan mati-matian ibukota.

Serraj mengatakan dia telah menawarkan konsesi kepada Jenderal Haftar demi menghindari pertumpahan darah.

Tags:

Berita Terkait

Related News