Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif (Masih) Rendah

Oleh : Riska Mustikasari, S.ST 

OPINI - Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan hal yang vital bagi tumbuh kembang dan kesehatan bayi. ASI memiliki manfaat sangat besar dalam jangka panjang. ASI adalah nutrisi terbaik dan terlengkap, mengandung protein dan zat-zat gizi berkualitas tinggi serta memiliki zat antibodi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. ASI juga melindungi tubuh bayi dari alergi dan diare serta penyakit infeksi lainnya.

Begitu pentingnya manfaat ASI, pemerintah pun membuat peraturan tentang ASI eksklusif. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 33 tahun 2012. Dalam PP tersebut, mendapatkan ASI merupakan hak seorang bayi. Pemerintah menganjurkan agar seorang ibu dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayi sejak dilahirkan sampai 6 bulan ke depan, tanpa menambahkan atau mengganti makanan/minuman lain. Selanjutnya setelah bayi berusia berusia 6 bulan ke atas dilanjutkan bersama dengan makanan tambahan, ASI tetap diberikan hingga usia 2 tahun.

Sayangnya sampai saat ini, masih sedikit ibu yang memberikan ASI eksklusif. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada 2017 di Indonesia, pemberian ASI eksklusif masih sangat rendah yakni 35,70 %. Artinya terdapat sekitar 64,30 persen bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Persentase ini masih jauh dari target cakupan ASI eksklusif yang ditetapkan oleh WHO yaitu 50 % Indikator lainnya yang masih rendah adalah Inisiasi Menyusui Dini (IMD). IMD adalah proses menyusui segera yang dilakukan satu jam pertama setelah bayi lahir. Masih berdasarkan data Kemenkes, IMD di Indonesia di 2017 sebesar 57,90% meningkat dibandingkan tahun 2016 (51,80%). Kendati meningkat, tetapi masih jauh dari target WHO yaitu sebesar 90 %. Capaiannya masih terbilang sangat kecil jika mengingat pentingnya peran ASI bagi kehidupan anak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), anak usia 0-23 bulan yang pernah mendapatkan ASI di Indonesia pada 2017 sebanyak 94,56 %, meningkat dibandingkan tahun 2016 (93,96%). Keadaan tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar para ibu sudah memiliki kesadaran betapa pentingnya pemberian ASI bagi bayi mereka.

Namun tidak cukup hanya pemberian ASI, lamanya pemberian ASI pun sangat penting. Dianjurkan seorang ibu dapat menyusui bayinya selama 2 tahun. Semakin lama bayi mendapatkan ASI akan memberikan kekebalan/proteksi yang lebih kuat. Data BPS menunjukkan bahwa rata-rata lama pemberian ASI secara nasional pada 2017 adalah 10,41 bulan . Adapun tahun sebelumnya yaitu 2016 (10,21 bulan) dan 2015 (10,28 bulan). Capaiannya masih jauh dari 24 bulan (2 tahun), bahkan masih kurang dari 12 bulan (1 tahun). Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata lama pemberian ASI di Indonesia relatif masih singkat.

Oleh sebab itu, rata-rata lama pemberian ASI perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai pemangku kepentingan khususnya pemerintah. Disini diperlukan upaya penguatan sosialisasi kepada para ibu yang mempunyai bayi. Pemberian ASI eksklusif perlu mengandalkan beberapa hal, diantaranya pengetahuan/pendidikan ibu dan sikap positif. Selain itu ketersediaan fasilitas dan waktu untuk memberikan ASI pada bayi juga menjadi hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Besarnya campur tangan keluarga dalam perawatan bayi mempengaruhi ibu dalam praktek pemberian ASI. Salah satu alasan utama ibu tidak konsisten memberikan ASI adalah ketakutan ibu akan kecukupan ASI yang bisa diproduksi. Secara biologis, selama ibu mengonsumsi makanan bergizi, dan selama terdapat rangsangan dari mulut bayi, maka ASI otomatis akan terus diproduksi.

Ada pengaruh psikologis ibu pada produksi ASI. Oleh sebab itu, ibu menyusui diupayakan untuk selalu bahagia dan dihindarkan dari emosi negatif. Disinilah dibutuhkan peran suami untuk mendukung istrinya yang sedang menyusui. Suami berperan memberi dukungan secara moril dan psikis selama ibu menyusui. Hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ini telah dibuktikan secara ilmiah di beberapa penelitian.

Kemudian dari sisi pendidikan, data BPS menunjukkan bahwa tingkat pendidikan perempuan sudah lebih baik. Persentase penduduk perempuan 10 tahun ke atas yang memiliki ijazah SMP ke atas mengalami peningkatan dari 42,84 % (2016) menjadi 46,66% (2017). Demikian pula dengan umur perkawinan pertama wanita di Indonesia sebagian besar sudah di usia matang (19 tahun ke atas). Pada 2017 berdasarkan data BPS, sebanyak 62,87% wanita di Indonesia menikah untuk pertama kali pada usia 19 tahun ke atas. Akan tetapi kedua faktor tersebut ternyata belum sepenuhnya menjamin setiap ibu paham dan sadar terhadap pemberian ASI eksklusif.

Meningkatnya persentase perempuan yang bekerja bisa menjadi salah satu faktor singkatnya pemberian ASI. Beberapa penelitian menunjukkan hanya sedikit ibu yang bekerja yang berhasil memberikan ASI eksklusif 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun bersama dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Waktu bekerja dan tekanan dalam pekerjaan menjadi faktor penghambat ibu yang bekerja untuk memberikan ASI eksklusif. Selain itu pengetahuan tentang cara menyimpan ASI dan tata laksana pemberian ASI di tempat kerja, ketersediaan fasilitas dan sarana ASI, serta dukungan atasan kerja dan tenaga kesehatan merupakan sejumlah faktor yang berperan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif di tempat kerja.

Sebagian besar ibu menyusui berada pada usia produktif, sehingga banyak ibu menyusui yang berstatus bekerja. Berdasarkan data BPS, pada 2017 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan mengalami peningkatan yaitu dari 50,89 % (2017) menjadi 51,88 % (2018). Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan mengalami penurunan dari 5,44 % (2017) menjadi 5,26 % (2018). Kemudian persentase perempuan yang bekerja juga mengalami peningkatan dari 94,56% (2017) meningkat menjadi 94,74 % (2018).

Mengingat kondisi diatas, peran tenaga kesehatan dan atasan di tempat kerja menjadi penting. Fungsi sosialisasi, pemberian hak menyusui dan penyediaan fasilitas menyusui yang memadai akan mampu mendukung pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. Namun kenyataannya masih perlu upaya optimal untuk mencapai itu. Pengetahuan dan pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut relatif masih rendah. Secara umum di Indonesia, masih jarang terlihat ibu menyusui yang bekerja untuk menyimpan ASI. Selain itu penyediaan fasilitas menyusui yang memadai di tempat kerja maupun tempat umum juga masih jarang tersedia.

Pada akhirnya, terlaksananya pemberian ASI eksklusif memerlukan dukungan berbagai pihak. Baik peran ibu menyusui, maupun dukungan dari luar ibu menyusui. Jika semua faktor pendukung telah
berfungsi dan berkontribusi maka capaian pemberian ASI eksklusif akan terus meningkat setiap tahunnya. Sehingga hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dapat terpenuhi seutuhnya. Sejalan dengan harapan dapat melahirkan anak-anak yang tumbuh dan kembang dengan baik serta memiliki daya tahan tubuh yang kuat.

Tags:

Berita Terkait

Related News