Sederet Fakta Mundurnya Theresa May Dari Perdana Menteri Inggris

PORTALJABAR.NET-Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, telah resmi mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif sekaligus sebagai PM pada 7 Juni mendatang. Pengunduran dirinya ini tak lepas dari persoalan Brexit yang terkatung-katung.

Hal ini terjadi setelah parlemen Inggris menolak untuk memberikan suara untuk mendukung kesepakatan Brexit sebanyak tiga kali. Kepemimpinan May sebagai perdana menteri telah banyak dikritik oleh anggota partainya sendiri akibat telah berulang kali gagal membawa Inggris keluar dari Uni Eropa (UE).

Dalam pidatonya di depan kediaman dinasnya di Downing Street 10, May mengatakan dirinya telah melakukan segala hal yang ia bisa untuk meyakinkan parlemen agar menyetujui rancangan perjanjian Brexit yang sudah ia sepakati dengan UE. Dengan demikian, dengan penuh penyesalan ia akhirnya gagal mencapai kesepakatan dengan parlemen.

Namun, terdapat fakta-fakta di balik pengunduran diri Theresa May dari jabatannya. Berikut Portaljabar.net paparkan sederet fakta :

1. Menjadi Penyesalan Terbesar Atas Kegagalan Mengeluarkan Inggris Dari Uni Eropa.

Ia menggarisbawahi bahwa sampai penggantinya belum terpilih, May akan tetap menjadi kepala pemerintahan Inggris. Dalam pernyataan resminya, May menyebut sejumlah prestasi yang telah ia capai. Misalnya, mengurangi jumlah pengangguran dan menambah anggaran layanan kesehatan. Namun, satu yang sangat mengganjal baginya adalah soal Brexit.

"Masih dan akan selalu menjadi penyesalan terdalam bagi saya bahwa saya belum berhasil mewujudkan Brexit," ucapnya sambil tersedu.

2. May Tidak Mendapat Dukungan Yang Solid Dari Partainya.

Menurut laporan BBC, pengunduran diri May terjadi usai pertemuan dengan Sir Graham Brady yang merupakan pemimpin Komite Konservatif di parlemen. Posisi Brady disebut sangat berpengaruh dalam menentukan posisi May. Ini karena setiap anggota Partai Konservatif yang ingin menyatakan mosi tidak percaya kepada Perdana Menteri, harus melakukannya dengan mengirim surat kepada Brady.

Pada akhir tahun 2018, ia dilaporkan sudah menerima 48 surat yang merupakan ambang batas minimal. Menurut peraturan Partai Konservatif saat ini, tidak ada lagi kesempatan untuk voting. Oleh karena itu, dengan tidak adanya dukungan dari partainya sendiri, maka May pun terpaksa meninggalkan posisinya.

3. Proposal Brexit Yang Diajukan May Justru Melemahkan Posisinya.

Keruntuhan Brexit sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak akhir tahun lalu ketika proposal pertama yang diajukan May gagal total di parlemen. Bukan hanya Partai Buruh selaku oposisi yang menolak, tetapi juga anggota-anggota partai May sendiri. Nasib yang sama terjadi pada proposal kedua. Dan May menyampaikan proposal ketiganya yang berisi 10 poin. Ia mengatakan bahwa proposal itu berisi rencana-rencana baru, tapi baik Partai Konservatif, Partai Buruh, sampai kabinetnya sendiri pun tidak mau menerima. Dua poin utama yang diajukan May adalah referendum Brexit kedua serta perjanjian bea cukai pasca-Brexit dengan Uni Eropa.

4. Sejumlah Anggota Partai Konservatif Bereaksi.

May sendiri berpesan, "Perpolitikan kita mungkin sedang terpuruk, tapi ada banyak sekali hal-hal baik tentang negara ini. Banyak sekali yang bisa dibanggakan. Banyak sekali yang bisa diharapkan."

Tak sedikit anggota Partai Konservatif yang kemudian menyampaikan respons mereka.

"Dia bisa menjadi pahlawan nasional jika memenuhi janjinya bahwa kita bisa meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret. Dari titik itu, sudah tak terhindarkan lagi bahwa ia takkan menjabat untuk waktu lama," kata Peter Bone.

Anggota lainnya pun percaya siapa pun pengganti May haruslah yang mendukung Brexit. (red).

Baca Juga : Rilis Single Baru, Tompi Gandeng Musisi Asal Inggris

Tags:

Berita Terkait

Related News