Tiket Pesawat Domestik Mahal, Anton Octavianto Sebut, Semua Kebablasan Tidak Ada Batas Bawah Dan Batas Atas

CIREBON - Pelaku industri biro perjalanan travel keluhkan mahalnya harga tiket penerbangan domestik,  Anton Octavianto pengamat yang juga Dosen Ilmu Transportasi Udara Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), menyatakan harga tiket pesawat masih tinggi meski pemerintah sudah melakukan relaksasi dan menerbitkan regulasi untuk menekan harga tiket.

Di tahun 2019 hampir seluruh maskapai menaikkan tarif tiket khususnya tujuan domestik, seperti dari Bandung ke Medan dengan besaran tarif mencapai 21juta, ini sangat berpengaruh kepada konsumen. Termasuk yang menuju daerah wisata.

Menurut Anton,  kebijakan ini harus ditinjau ulang kembali dan tidak masuk diakal semua kebabablasan tidak ada batas bawah dan batas atas.

Baca Juga : 

Harga Tiket Pesawat Tidak Masuk Akal, Begini Kata Kemenhub

"Pengaruh kenaikan tiket ini,  dunia penerbangan akan ditinggalkan sebagian penggunanya dan ini akan berimbas terhadap kelangsungan industri usaha penerbangan. Yang tidak mungkin akan berguguran satu demi satu prihatin dan akan di ikuti industri pendukungnnya," jelas Anton, sabtu (1/06/2019).

Jika sampai diteruskan, terlebih pemerintah bakal undang maskapai asing untuk melayani penerbangan domestik, kata Anton bisa juga, tetapi nanti imbasnya maskapai domestik kita agak kewalahan.

"Lebih baik tetapkan batas bawah dan batas atas  pengawasan ketat terhadap multi clas, disaat sepi maskapai buka kran terendah dan saat ramai maskapai buka kran tertinggi, tentunya tidak melebihi batas bawah dan atas," katanya.

Anton yang kini tengah mempersiapkan orang - orang ahli di bidang transportasi udara, di jurusan D3 kehumasan transportasi udara, Universitas Muhammadiyah Cirebon berharap agar 

Semua maskapai harus komit dan sebagai penegak hukumnya dalam hal ini dirjen perhubungan udara  dan masyarakat harus sama - sama mengawasinya.

"Untuk itu kita perlu orang - orang ahli dibidang transportasi udara untuk mengelola persaingan yang sehat antar maskapi, Karena masih sangat kurangnya tenaga ahli di bidang transportasi udara, oleh karena itu yang berlaku sekarang yang ada dikarbit tanpa proses pematangan yang seharusnya," pungkas Anton. (Jhn)

Tags:

Berita Terkait

Related News