Tabungan Artha Perumahan
Investasi Properti Tetap Menjadi Pilihan Masyarakat Pada Tahun 2018

Ilustrasi

Michael
2017-11-27 12:00:28
447

BANDUNG - Sebuah survei terhadap lebih dari 22.000 investor di 30 negara memperlihatkan bahwa orang-orang memprioritaskan untuk berinvestasi di pasar (pasar modal, pasar uang atau pasar komoditas) daripada menabung di bank, membeli properti dan membeli kemewahan (seperti liburan dan mobil baru), serta melunasi hutang.

“Pada prioritas penggunaan atas pendapatan yang siap dibelanjakan di tahun depan, proporsi terbesar responden berencana untuk berinvestasi,” kata Ekonom pada Schroders Indonesia (perusahaan manajemen aset internasional), Teddy Oetomo, Senin (27/11).

Sebanyak 21% responden melihat investasi di pasar keuangan dan property.  Hal ini mungkin disebabkan oleh kecenderungan budaya yang kuat untuk menginvestasikan uang di property dan harga properti yang relatif lemah belakangan ini, membuat investor yakin bahwa penawaran properti saat ini cukup menarik

Sebagai perbandingan, di negara-negara seperti China (45%), Taiwan (45%), Hong Kong (39%)dan Jepang (38%) menempatkan prioritas tertinggi untuk berinvestasi. Korea Selatan melawan tren tersebut dan lebih memilih untuk menempatkan dalam deposito (19%) atau membeli properti (16%). Hanya (12%) yang memilih berinvestasi di pasar modal.

Di Amerika (Amerika Serikat, Kanada, Brasil dan Cile) memprioritaskan berinvestasi (19%) diatas yang lain, diikuti dengan penempatan uang ke bank (16%). Namun, negara-negara Amerika Latin lebih cenderung ingin berinvestasi di properti dibandingkan negara-negara lain di Amerika Utara.

Sementara di Indonesia prioritas utama untuk tahun ke depan difokuskan pada investasi seperti pada saham, obligasi, komoditas (21%), properti (21%), penempatan deposito/menabung di bank (12%), berinvestasi untuk pensiun (14 %).

Tidak seperti investor global, alasan utama investor Indonesia berinvestasi, termasuk untuk membantu anggota keluarga dengan memberikan penghasilan saat ini atau penghasilan di masa depan, namun tidak untuk membeli sesuatu.

Kebanyakan dari mereka berinvestasi untuk menyiapkan sejumlah uang saku untuk membantu anak-anak mereka di masa depan (89%), membayar uang pendidikan anak-anak/cucu mereka (87%), memberikan dukungan anggota keluarga (87%) atau membayar biaya kesehatan/biaya medis untuk mereka sendiri/sanak keluarga (83%).

“Dibandingkan dengan global, program pensiun baik yang dikelola pemerintah maupun perusahaan di Indonesia masih belum memadai, sehingga orang Indonesia harus mempersiapkan dan merencanakan masa depan dengan lebih baik,” tuturnya.

Top Coffe
loading...