Tabungan Artha Perumahan
Meski Tidak Berizin, Penjual BBM Pertamini Mengaku Lebih Untung

2017-12-05 13:29:36
438

KARAWANG -  Seorang warga Kecamatan Banyusari, Yeni (31) menekuni usaha jualan bensin, dengan menggunakan alat pengukur bensin yang diberi nama Pertamini lebih menguntungkan walaupun ilegal.

Yeni mengaku meski baru berjualan tiga bulan, namun hasil dari jualan bensin dengan nama Pertamini ini sangat menguntungkan.

“Sebelumnya saya jual bensin menggunakan botol dan saat beralih menjadi Pertamini ternyata lebih menguntungkan," katanya, Selasa, (5/12/2017).

"Jika biasanya saya jual bensin menggunakan botol, hanya bisa menjual kurang dari 100 liter, namun ketika saya beralih menjadi Pertamini, satu harinya bisa sampai 200 liter. Semua bensin yang saya jual ini saya beri selisih harga Rp 1.000 per liter dari harga resminya,” sambungnya.

Yeni juga menceritakan terkait pembelian alat pengukur bensin yang biasa dikenal dengan sebutan Pertamini.Dia hanya cukup datang dan memesan alat ukur ke seseorang yang biasa membuat secara khusus alat ukur bensin untuk Pertamini.

Ditanya soal perizinan, Yeni menerangkan, bahwa selama ini baik dia dan banyak warga yang membeli alat ukur tersebut tidak mendapatkan izin, atau bahkan menemukan perizinan mengenai Pertamini ini.

Dengan membeli alat ukur yang dibanderol mulai Rp 10 juta sampai Rp 20-an juta itu, penjual bensin Pertamini ini hanya mendapatkan alat dan satu alat pemadam kebakaran yang ukurannya kecil.

“Saya beli alatnya seharga Rp 18,5 juta, untuk pengisian Pertamax dan Pertalite, serta masing-masing jenis BBM ini saya isi sekitar 100 liter," ungkapnya.

"Jika ditanya takut tidak kebarakan, atau meledak, saya takut sekali, tapi bisnis ini sangat menguntungkan,  meski bisnis ini ilegal. Pembeli di sini semuanya lebih senang beli di Pertamini ini, karena jarak ke SPBU lumayan jauh,” imbuhnya.

Seorang pengendara sepeda motor, Suryanto (39) yang membeli di Petamini milik Yeni mengaku terbantu mendapatkan bensin jika dirinya hampir kehabisan bensin dari pada hari ke SPBU dahulu.

Meski harganya jauh lebih mahal dibanding dengan BBM yang ada di SPBU resmi, Yanto  sapaan akrab pria itu mengaku tidak masalah.

“Terpautnya hanya Rp 1.000 saja, tentu sangat sebanding dengan jarak yang bisa saya tempuh ketika mencari SPBU. Jika harus ke SPBU harus menempuh jarak 30 menit,” ungkapnya. (nan)

Top Coffe
loading...