Novel Ada Cinta Di Bangku SMA, Ambil Latar Tempat Di Puwakarta, Begini Sinopsisnya

KARAWANG - Senin pagi (16/04/2018) di Hey-Ho Kafe, senyum merekah tertuju lensa kamera, 'Anak-Anak Muda' Purwakarta tengah foto bersama sembari memajangkan buku bertuliskan Ada Cinta Di Bangku SMA. Rupanya, Fajar Maritim, sedang launching/meluncurkan novel perdananya.

"Bukan launching ya, kalau disebut launching kedengarannya formal dan 'wah' sekali. Ini mah kumpul-kumpul saja, sama teman-teman mahasiswa, anak-anak muda di Purwakarta. Ceritanya kita bangun silaturahmi, sama-sama kenalan ya, sama Novel yang saya karang ini," ujar Fajar saat berbincang dengan wartawan, Sabtu (21/04/2018).

"Kita diskusikan banyak hal, bukan hanya tentang novel ini saja, tapi lebih luas lagi kita bicara soal membangun tradisi  menulis di kalangan anak muda Purwakarta. Alhamdulilah, sambutannya baik dan mereka antusias," ujarnya.

Disinggung soal novelnya, Fajar mengurai, jika 'Ada Cinta Di Bangku SMA' merupakan novel perdananya yang ditulis sejak Juli 2016 dan naik cetak pada April 2018 oleh penerbit Kaheman Publishing. "Jadi agak lama memang prosesnya, sekira 22 bulan," ungkapnya.

Banyak Humornya

Novel ini berkisah tentang pertemanan anak SMA yang mengambil latar tempat di Purwakarta tahun 2008, yang diperankan oleh Tomi, Muit, Saefudin, Gofarudin, Iyep, Nadroh, dan Suci, yang mana mereka semua satu sekolah, dan satu kelas. Jalan cerita dari novel ini mengisahkan tentang bagaimana malasnya, nakalnya, usilnya, tetang semangat bekawannya, semangat belajarnya.

"Ini bukan novel romantis sebagaimana judul ya. Kalau romantis-romantis sedikit ya ada. Tapi jalan cerita dari novel ini banyaknya suputar humor, seputar kelucuan-kelucuan anak sekolah. Banyak pesan-pesan moral pula yang disiratkan," jelasnya.

Cerita bermula saat Tomi yang mengisi ujian seleksi dengan asal-asalan, secara mengagetkan diterima di salah satu SMA favorit di Purwakarta. Di SMA, Tomi bertemu lagi dengan Muit, mereka sama-sama nakal sejak SMP. Konon Muit bisa diterima di sekolah favorit itu, karena mencontek dari Tomi.

Tomi dan Muit, dua anak nakal ini, bersama-sama dengan Saefudin, Gofarudin, Iyep, yang juga nakal, sering berulah di sekolah, seperti kesiangan, kabur-kaburan, sering tidak mengerjakan PR, sering meninggalkan piket kelas. Nakalnya mereka kerap bikin Ibu Guru geram dan menghukum mereka seperti disetrap di bawah tiang bendara, kemudian dihukum membersihkan toilet.

Nadroh dan Suci, pelajar teladan di sekolah, juga kerap geram dengan kenakalan mereka. Tapi Nadroh dan Suci, pada gilirannya, secara tidak langsung bisa meredam nakalnya Tomi dan Muit. Perlahan mereka diajak ke jalan yang baik dan benar.

"Justru novel ini konfliknya bukan tentang cinta-cintaan. Bukan pula tentang pacar-pacaran. Nggak ada cerita tentang perkelahian, apalagi menampilkan ribut-ributan, nggak ada. Ini cerita murni tentang anak sekolah, yang persoalan terbesarnya adalah pelajaran IPA," bebernya.

Segini 'Uyuhan'

Disinggung soal upayanya menyaingi Pidi Baiq pengarang Novel Dilan yang terkenal itu, Fajar tegas membantah.

"Tidak, pertanyaan ini kalau bisa jangan diulaslah. Tapi jawaban saya begini. Memang ini sama-sama mengisahkan cerita anak SMA, tapi ini sesuatu yang amat berbeda. Tentu saya tidak mau disebut berupaya bersaing sama beliau (Pidi Baiq). Nggaklah, inikan buku perdana saya, ya segini juga udah uyuhan," pungkasnya. (Uya)

Related Articles