PORTAL JABAR,- Hidup tidak terlepas dari berbagai kejadian dengan berbagai pengaruhnya terhadap diri kita sendiri. Misalnya, ketika individu gagal dalam suatu pencapaian yang ingin diraih dan individu itu tidak memiliki resiliensi atau memiliki resiliensi yang rendah maka individu tersebut akan menilai bahwa hidup mereka telah gagal dan biasanya akan merasa kehilangan kepercayaan akan kemampuan dirinya. Kejadian tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang ada diluar kendali kita dan apa yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana cara menguatkan ketahanan psikologis kita agar tidak terus terjebak dalam perasaan tak berdaya. Ketahanan psikologis atau yang dikenal dengan resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan, beradaptasi terhadap sesuatu yang menekan, mampu mengatasi dan melalui, serta mampu untuk pulih kembali dari keterpurukan (Reivich dan Shatte, 2002). Kemampuan resiliensi individu dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor dukungan luar, kekuatan internal individu, dan kemampuan sosial.
Berdasarkan Coulson (2006), ada beberapa tahapan disaat individu menghadapi situasi dari kejadian yang penuh tekanan sampai mencapai resiliensi. Mulanya individu akan merasakan keadaan dimana individu mengalah, jika individu terjebak dalam keadaan ini secara terus menerus maka akan berpotensi mengalami depresi dan pada tingkat yang tinggi akan ada keinginan mengakhiri hidup. Kemudian ada tahap bertahan atau survival, pada tahap ini fungsi psikologis individu tidak dapat kembali berfungsi secara wajar. Berikutnya adalah tahap pemulihan atau recovery, tahap ini adalah tahap ketika individu mampu mengembalikan fungsi psikologisnya secara wajar dan menyesuaikan diri meskipun masih ada efek dari perasaan negatif yang dirasakannya. Tahap terakhir yang menandakan individu telah mencapai resiliensi adalah tahap berkembang pesat atau thriving. Tahapan ini menunjukkan individu tak hanya kembali ke fungsi sebelumnya tetapi juga mampu melampaui kapasitas mereka pada beberapa aspek. Individu lebih mampu menghadapi keadaan yang menekan karena belajar dari pengalamannya sehingga membuat individu menjadi lebih baik.
Kejadian atau situasi yang kita anggap masalah dan menimbulkan tekanan tentu tidak dapat kita hindari, oleh karenanya kita perlu resiliensi untuk menghindari kerugian yang dapat timbul dari kejadian atau situasi tersebut. Fungsi resiliensi ini dapat dihasilkan jika kita mengubah cara pandang kita ke arah yang positif. Misalnya, ketika individu ditinggalkan pasangannya, individu tersebut akan merasakan kesedihan yang begitu besar, kesedihan ini jika tidak ditangani dengan resiliensi akan menimbulkan kerugian seperti terbentuknya sikap yang terus menutup diri dari lingkungan sosial atau orang baru di sekitarnya, padahal jika individu berpikir positif bahwa perginya seseorang dari kehidupannya itu adalah yang terbaik dan akan membukakan pintu bagi orang lain yang lebih baik untuknya, individu tersebut akan lebih bahagia meskipun dihadapkan pada masalah atau tekanan tersebut di dalam kehidupannya.
Fungsi berikutnya dari resiliensi adalah mempengaruhi self efficacy sehingga kita memiliki keyakinan akan kemampuan yang kita miliki bahwa kita mampu menyesuaikan diri dengan efektif dan mampu mengatasi berbagai situasi sulit atau masalah yang ada di dalam hidup kita. Fungsi berikutnya yaitu memberikan efek bangkit dari kemunduran. Misalnya, beberapa kejadian seperti kejadian yang traumatis sangat memerlukan resiliensi. Kejadian traumatis pada individu dapat memberikan kemunduran yang drastis dan menguras emosi individu tersebut. Individu yang memiliki resiliensi biasanya mengatasi trauma dengan meyakini sekuat mungkin bahwa mereka mampu mengendalikan hidup mereka ke kehidupan normal, misalnya pada kejadian ketika individu mengalami perundungan oleh teman sebaya, individu dengan resiliensi akan menyembuhkan masa lalunya dan mengetahui bahwa mulai belajar untuk kembali berhubungan dengan orang lain merupakan titik balik dalam langkah mengatasi pengalaman yang dirasakannya. Fungsi yang terakhir yaitu resiliensi dapat memberikan pengalaman hidup yang bermakna juga memberikan semangat untuk terus belajar dari pengalaman. Individu dengan resiliensi akan lebih tepat dalam memperkirakan risiko yang terjadi dan lebih mengenal diri mereka dengan baik.
Dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan dan tekanan, resiliensi menjadi mekanisme yang penting untuk menghadapinya. Kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengatasi rintangan adalah kunci untuk menjaga kesehatan mental dan emosional kita. Dengan memperkuat ketahanan diri dan mengembangkan pola pikir yang positif, kita dapat menghadapi tekanan hidup dengan lebih baik. Resiliensi bukanlah sifat yang diberikan pada lahir, tetapi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan ditingkatkan sepanjang hidup. Dengan mengasah resiliensi, kita dapat melihat tantangan sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang, serta membangun fondasi yang kokoh untuk meraih kesuksesan. Jadi, mari kita terus memperkuat resiliensi kita dan memandang tekanan hidup sebagai batu loncatan menuju kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih besar.
PENULIS: Dea Raisa Andini
Referensi:
Reivich, K., & Shatte, A. 2002. The Resilience Factor: 7 Keys To Finding Your Inner Strength And Overcome Life’s Hurdles. New York: Broadway Books.
Coulson, R. 2006. Resilience and Self-Talk in University Student. Kanada: Thesis Uiversity of Calgary.









































































Discussion about this post