KOTA BANDUNG, - Penyanyi Marcell Siahaan maju sebagai calon legislatif DPR RI dapil Jabar 1 (Kota Bandung dan Kota Cimahi) dari Partai PDI Perjuangan.
Untuk menampung aspirasi masyarakat, ia meresmikan posko pemenangan yang dinamakan Posko Semusim Marcell Siahaan di Jalan Sultan Agung No 10, Selasa (17/10).
Marcell menyampaikan kehadiran posko atau rumah singgah pemenangan tersebut sebagai bentuk syukur atas masuknya Marcell ke dunia politik.
Hadir para relawan Marcell, keluarga, anak-anak yatim, dan tokoh budaya Budi Dalton dalam peresmian tersebut.
“Terjun ke dunia politik tentu bukan sesuatu yang mudah melainkan langkah besar yang saya ambil dan pastinya berdampak besar ke keluarga maupun teman-teman terdekat,” katanya.
Masuknya Marcell ke dunia politik dan berada di dapil kelahirannya, yakni Kota Bandung, lanjutnya, semakin membuat tekadnya bulat untuk balik kampung alias balik ke Bandung.
“Ketika saya balik lagi ke Bandung setelah lama pergi, membuat diri saya melihat Bandung saat ini terlihat waas bukan was-was ya. Saya mendapat kesempatan untuk lebih dalam dan lebih dekat melihat Bandung sekaligus mengetahui apa yang dibutuhkan Bandung. Kesempatan inilah semacam dorongan kuat bagi saya,” ujarnya.
Marcell Siahaan yang sempat menjabat sebagai duta sosial Kota Bandung membuat ia melihat kondisi masyarakat Bandung secara langsung.
Ia menyimpulkan, akar permasalahan di Kota Bandung, lantaran tak ada yang mau turun ke bawah untuk mendengarkan keluh kesah masyarakat, sehingga hal tersebut yang akan dia lakukan.
“Saya selama ini bekerja sebagai pelaku pertunjukkan alias artis dan mendapat kesempatan bertemu begitu banyak orang. Sejak kecil saya sudah tinggal di Bandung dan besar di sini. Jadi, saya pun ingin mengabdikan diri untuk kota ini,” katanya.
Menurut Marcell, budaya nongkrong atau duduk bareng yang dulu sering dilakukannya mulai ditinggalkan.
Padahal, katanya, budaya nongkrong ini sangat sakral untuk bisa berkomunikasi, saling mendukung, saling mendengarkan, dan mengagumi satu sama lain.
“Itulah budaya Bandung sebenarnya. Nongkrong itu bagian dari musyawarah dan mengamalkan sila keempat dari Pancasila. Tapi, saat ini kebanyakan hanya sebatas mendengarkan dan menyerap (aspirasi), setelah itu enggak ada lagi nongkrong untuk memastikan kembali aspirasi itu berjalan atau belum,” katanya.
Selain budaya nongkrong, Marcell pun melihat permasalahan kesejahteraan sosial di Bandung masih tinggi, sehingga belum seimbang untuk kesempatan pemenuhan hal-hal yang sifatnya urusan perut hingga pendidikan.
“Semoga saya jika kelak terpilih anggota DPR RI, saya bisa membayar permintaan atau aspirasi masyarakat itu dengan kerja nyata di parlemen,” tandasnya.(*)






































































Discussion about this post