PORTAL JABAR,- Life just took a left, when we all thought it would go straight. But it went left — NCT Mark.
Manusia seringkali membuat rentetan rencana-rencana. Rencana karir untuk kehidupan di masa depan, rencana untuk melakukan aktivitas pada saat weekend, atau merencanakan strategi belajar. Sambil berusaha mewujudkannya satu per satu, terkadang mereka lupa bahwa tidak selamanya dunia berputar pada orbit kehidupan mereka. Otomatis, tidak semua hal akan berjalan sebagaimana yang telah mereka rencanakan.
Apa yang membuat orang-orang melewatkan kesempatan emas yang sudah lama dinantikan dan merasa ragu untuk mengambil keputusan yang lebih besar?
Kegagalan. Menurut saya, salah satu dari pertimbangan mereka adalah peluang terjadinya kegagalan yang kemudian membuat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana dan berbalik menghancurkan mereka, rencana mereka, dan tujuan awal mereka. Maka dari itu, beberapa orang memilih untuk tetap berada di zona nyaman mereka, menjaga track mereka dari hal-hal yang akan menyebabkan terjadinya kegagalan.
Salah satunya adalah mencoba hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mencoba suatu hal yang belum pasti akan memberikan feedback positive, atau malah meruntuhkan rentetan rencana atau track yang sudah dijaga sebaik mungkin. Karena tidak adanya kepastian atau jaminan yang dijanjikan atau terlihat di awal.
Namun, perlu diingat bahwa selalu ada peluang untuk gagal dan berhasil pada setiap kesempatan — baik pada kesempatan yang sudah dicoba sebelumnya, ataupun kesempatan yang untuk pertama kalinya dicoba. Dan untuk mengetahuinya lebih pasti, tidak ada cara lain kecuali untuk mencoba menjalani hal tersebut. Tentunya dibutuhkan keberanian di dalamnya. Keberanian untuk meyakinkan diri sendiri bahwa asumsi-asumsi buruk yang terbayangkan bukanlah prediksi yang akan terjadi, meyakinkan diri sendiri bahwa kalaupun yang dihadapi selanjutnya adalah kegagalan; itu adalah sebuah fase yang akan berlalu. Di luar itu, kita akan mendapatkan fragmen-fragmen pengalaman yang membentuk diri kita menjadi lebih baik, dan yang lebih pasti; kita akan tahu dengan pasti, apakah kesempatan yang kita telah jalani memberikan akhir baik atau buruk.
When things went out of our plan, it’s okay to be sad. At least, we tried our best. Dengan menjalaninya dengan baik, setidaknya tidak ada penyesalan karena tidak pernah mencoba kesempatan tersebut. Dengan memilih untuk mencoba memiliki pengalaman baru, ada hal-hal yang dapat dijadikan pembelajaran supaya kita dapat menjadi sosok yang lebih baik dan lebih siap pada kali kesempatan lain muncul di waktu mendatang.
Jika selama ini pikiran kita tertuju kepada asumsi terjadinya kegagalan, kenapa kita juga tidak berpikir mengenai adanya peluang untuk terjadinya keberhasilan? Inilah salah satu contoh pembelajaran optimisme (learned optimism) berasal dari psikologi positif, yang diperkenalkan oleh Martin Seligman (2006). Pembelajaran Optimisme adalah teori di dalam bidang psikologi positif yang menunjukkan bahwa sikap optimis adalah kemahiran yang dapat dikembangkan seperti kemahiran-kemahiran yang lain.
Then, rather than assume things wouldn’t happen, let be positive and give it a try!
PENULIS: Safira Az-Zahra
Referensi:
- Aziz, A. R. A., Razak, H. A., Sulaiman, S., & Sungkar, H. (2021). Seminar Antarabangsa Islam dan Sains. E-Prosiding Seminar Antarabangsa Islam Dan Sains 2021 “Wawasan Kemakmuran Bersama 2030’’









































































Discussion about this post