PORTAL JABAR,- Jatuh cinta adalah hal yang lumrah dialami oleh setiap insan manusia. Mustahil adanya jika manusia tidak pernah merasakan jatuh cinta. Perasaan cinta yang dimiliki oleh seseorang beragam bentuknya dan dapat datang dari mana saja. Menurut Libowitz yang dikutip dalam Wortman (1992), cinta merupakan perasaan positif yang dirasakan terhadap seseorang dan cinta merupakan perasaan positif terkuat yang pernah dialami. Begitu pula dengan Stenberg (1988) yang menyatakan bahwa cinta sebagai bentuk emosi manusia yang paling dalam dan diharapkan.
Bagi orang yang sedang jatuh cinta, segala hal tentu terasa menyenangkan. Layaknya kisah romansa yang selalu kita lihat dalam layar televisi, setiap orang tentu ingin memiliki kisah cinta seperti itu. Stenberg (1988) pula menyebutkan bahwasanya cinta memiliki tiga dimensi diantaranya yaitu Passion, Intimacy dan Commitment. Menurut dimensi Passion, perasaan cinta pada diri seseorang dapat terjadi karena adanya ketertarikan terhadap fisik dan hasrat seksual. Bertemu dengan seseorang yang dicintai mampu membangkitkan perasaan bahagia dan degup jantung yang berdebar kencang. Tidak heran jika cinta disebut sebagai emosi positif yang menyenangkan. Mencintai dan dicintai, itulah hal yang sangat diharapkan. Namun perasaan cinta tidak dapat dipaksakan hadirnya terlebih jika cinta tersebut hanyalah sepihak. Naluri alami manusia adalah menginginkan adanya feedback melakukan suatu hal, tidak terkecuali dengan jatuh cinta. Seperti yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial bahwa jatuh cinta sepihak kini bagaikan sebuah trend yang sedang dialami oleh setiap orang. Tentu saja menyakitkan jika mencintai seseorang namun tak berbalas.
Masalah dalam hubungan percintaan. Dalam sebuah hubungan, tidak ada yang namanya salah satu pihak yang berjalan, perlu keduanya untuk jalan beriringan. Keintiman terfokus pada perasaan diantara dua orang dan kekuatan yang mengikat keduanya untuk bersama. Intensitas waktu bersama dapat menjadi faktor utama terciptanya keintiman dalam hubungan. Menjalani hubungan percintaan perlu kerjasama pasangan untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Komitmen berperan penting dalam hal ini untuk tujuan hubungan yang lebih jelas. Permasalahan tentu saja akan selalu ada dalam setiap hubungan. Namun apabila kedua pasangan tidak dapat menemukan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi, maka berpisah adalah pilihan terbaik.
Mencoba memaafkan kehendak yang tidak sesuai. Sulit rasanya jika kita harus mencoba untuk berdamai dengan keadaan yang tidak kita inginkan. Memaafkan keadaan bukan berarti kita kalah dalam berjuang. Kita hanya mencoba menjadi yang terbaik untuk diri sendiri dengan tidak melibatkan diri terlalu jauh ke dalam perasaan yang hanya menyakiti dan berujung menjadi emosi negatif. Konteks memaafkan tidak hanya memiliki arti seseorang memiliki kesalahan kepada kita, lebih daripada itu memaafkan adalah proses berdamai dengan cara yang indah dan menentramkan hati. Kekuataan memaafkan tidak dimiliki oleh semua orang secara instan namun perlu waktu yang panjang untuk berkutat dengan pikiran dalam memahami. Memaafkan adalah upaya manusia dalam mengembangkan akal sehat serta hal penting lainnya yaitu sebagai bentuk pemulihan hubungan interpersonal antar individu setelah terjadi konflik (Nihayah, dkk. 2021). Upaya memaafkan perlu dilakukan demi terciptanya kesejahteraan psikologis individu.
Forgiveness atau memaafkan adalah serangkaian tindakan dengan menurunkan motivasi untuk balas dendam, menjauhkan diri atau menghindar dari hal yang menyakitinya (McCullough, 2000). Forgiveness memiliki tiga aspek diantaranya avoidance motivation, revenge motivation, dan beneviolence motivation. Memaafkan memiliki pengaruh positif bagi psikologis individu. Melepaskan segala hal yang menyesakkan dan memberikan pengampunan untuk mengurangi balas dendam mampu menciptakan perilaku dan suasana yang baik bagi psikologis seseorang.
Pengelolaan emosi menjadi tepat untuk menimbulkan kebahagiaan dan menghadirkan emosi positif. Seligman (2005) mengungkapkan bahwa kebahagiaan dapat membuat individu memaknai sesuatu secara objektif, kreatif dan menekankan pada kesejahteraan dalam bentuk kepuasan penuh. Bahagia harus diciptakan oleh diri sendiri. Memaafkan, menerima dan memulai kebahagiaan yang baru mampu memberikan sebuah harapan optimis akan hidup yang lebih baik bagi seseorang yang telah mengalami patah hati. Kondisi individu ketika merasa terpuruk dan tidak bahagia akan membuat kondisi Psychology Well Being (PWB) individu tersebut tidak baik.
Psychological Well-Being (PWB) menurut Ryff (dalam Tacasily, 2021) adalah penerimaan penuh psikologis seorang individu. Individu dapat menerima diri sendiri dan memiliki hubungan positif dengan orang lain, mampu bertindak mandiri dan mengendalikan lingkungannya adalah kondisi seseorang mencapai kesejahteraan psikologisnya. Oleh karena itu perlu ditumbuhkan kembali harapan akan hidup yang yang lebih baik.
Harapan menurut Snyder (1999) adalah keyakinan individu dalam melibatkan kemampuannya untuk menerapkan rute yang tepat dalam mencapai tujuan dan yakin atas kemampuan diri sendiri. Motivasi untuk bangkit dari keterpurukan pasca patah hati mampu menjadikan individu tersebut seperti terlahir kembali menjadi seseorang baru. Menata kembali hidup, menyusun rencana masa depan dengan penuh kebahagiaan dan sepenuhnya mampu mengendalikan diri sendiri. Faktor yang dapat mempengaruhi tercapainya harapan pada individu diantaranya yaitu dukungan sosial, kepercayaan religious dan kontrol diri. Optimise untuk lebih mencintai diri sendiri setelah mengalami putusnya hubungan romansa adalah upaya terbaik dalam menyelamatkan diri dari keterpurukan yang tak berkesudahan.
PENULIS: Destri Syawalgia Ranki
REFERENSI
- Snyder, C.R., Cheavens, J., Michael, S.T., 1999. Hoping. In: Snyder, C.R. (Ed.) Coping: The Psychology of what works (205-251). New York: Oxford University Press.
- Nihayah, Ulin, dkk. (2021). Konsep Memaafkan dalam Psikologi Positif. Indonesian Journal of Conseling and Development, vol 3 (2)
- Tacasily, Yanastasia Olivia Mahole & Christina Hari Soetjiningsih. (2021). Hubungan Forgiveness dan Psychological Well-Being pada Mahasiswa yang Pernah Mengalami Putus Cinta. Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, vol 12 (2)
- McCullough. 2001. Forgiveness: Who Does It and How Do They Do It?. Department of Psychology 10(6). Southern Methodist University, Dallas, Texas









































































Discussion about this post