Cerita Mahasiswi Pelaku Seks Bebas Dan Aborsi (Bag2) Hampir Meregang Nyawa!

Berita Sebelumnya : EKSKLUSIF: Kisah Kelam Seorang Mahasiswi Pelaku Seks Bebas Dan Aborsi (Bag 1)

 

Setelah dinyatakan selesai upaya Aborsi, Noni kemudian diminta pulang kembali dengan diantar armada Elf sewaan tadi, menuju rumah kontrakannya di daerah Bandung. "Semua kami lakukan tanpa sepengetahuan siapapun terlebih orangtua, karena malu dan takut," ungkap Nona.

Jelang pagi, Nona merasakan mulas dibagian perut yang sangat  luar biasa. Ia mengaku masuk ke kamar mandi dan ternyata keluar benda seperti bantalan kain kassa bercampur darah. "Dikira janin taunya kain kassa," katanya.

Tak hanya itu, seketika kepalanya terasa pusing hebat, disertai perut yang masih terasa sakit. Tubuhnya pucat pasi, dan lemas di sekujur tubuh akibat pendarahan hebat. "Saya minta tolong telpon pacar saya, dan diantar ke rumah sakit umum ternama di Bandung. Saat itu saya ingat  diluar masih gelap, dan kami menyewa taksi ke rumah sakit," katanya.

Berperan sebagai sepasang suami istri ditemani beberapa teman kontrakan, Noni mengaku mendapat perawatan intensif hingga akhirnya pihak rumah sakit memberikan tindakan kuret untuk mengeluarkan janin yang dinyatakan pihak dokter  sudah meninggal dunia. "Setelah itu sorenya saya diperbolehkan pulang usai membayar biaya rumah sakit," ujarnya.

Didatangi Utusan Dukun

Selang sehari, Nona mengaku kondisi tubuhnya berangsur membaik, rasa sakit setengah mati yang dialaminya berangsur hilang. 

Namun, kata Dia, alangkah terkejutnya ia kedatangan tamu tiga pria, yang seinggatnya adalah anak dari Dukun dan dua awak angkutan yang ia sewa. 

"Mereka datang menanyakan kondisi pasca Aborsi di Sumedang, dan memaki saya ketika diceritakan dirinya sehat usai dirawat di rumah sakit,"katanya.

Ternyata, papar Nona, pria utusan sang dukun itu membawa bungkusan yang disehut ramuan khusus agar janin di perutnya bersih dan segera dapat di keluarkan. 

"Saya jawab perut saya sudah bersih di kuret. Saya dimaki katanya seharusnya usai dari Sumedang harus menempuh tiga tahapan aborsi. Dan biaya setiap kali proses diminta sebesar Rp 1 juta, plus ramuan khusus Rp 300 ribu. Saya tolak lah karena saya anggap keinginan saya sudah selesai usai dirawat di RS," paparnya. 

Diungkapkan Nona, ketiga pria kemudian pergi dengan mimik kecewa dan marah. Ia kemudian menceritakan hal itu kepada teman pacarnya yang memberi saran sebelumnya menemui dukun beranak asal Sumedang itu.

"Katanya memang begitu sistemnya, pasien aborsi akan terus  dikekang agar ketergantungan terhadap dukun tersebut untuk berobat. Pernah sebelumnya ada yang sampai habis puluhan juta diperas utusan sang dukun dengan dalih kontrol pasca aborsi," kata Nona.

Nona mengatakan, pengalaman kelam seumur hidupnya itu diungkap agar orang lain jangan sampai terjerat lingkaran setan seks bebas yang berujung aborsi. 

"Saya kapok, amit-amit,jangan sampai dialami siapapun. Selain dosa besar, nyawa menjadi taruhan," imbaunya.

Saat ini Nona, mengaku sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 orang anak dan hidup bahagia bersama suaminya. 

"Beruntung Allah masih beri saya kesempatan bertobat serta rahim saya masih bisa memberi keturunan. Banyak diantaranya akibat aborsi menderita kanker dan meninggal dunia karenanya," tutupnya. (Habis)

Reporter : Adi Nugraha
Editor    : Ega Nugraha

Tags:

Berita Terkait

Related News