Cuaca Tak Menentu Di Cirebon, Penjual Jas Hujan Sepi Pembeli, Pengrajin Kerupuk Melarat Banjir Pesanan

CIREBON - Di musim penghujan ini, tentunya banyak orang yang membutuhkan jas hujan, terutama bagi pengendara roda dua. Sebab, jas hujan bisa digunakan untuk melindungi tubuh dari siraman air hujan, supaya tetap bisa berkendara dan melanjutkan perjalanan.

Meskipun musim penghujan sudah datang, ternyata permintaan jas hujan di pasaran masih belum mengalami kenaikan bahkan lebih menurun omzetnya. Hal tersebut dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat, serta harga jas hujan yang semakin naik.

Seperti pantauan Portaljabar.net di sejumlah toko jas hujan di sekitaran Jalan Pekiringan Kota Cirebon diantaranya Toko Menang. Meskipun musim hujan datang, pembeli jas hujan cenderung menurun dibandingkan musim hujan tahun lalu.

Menurut Rebecca Marychan selaku pemilik toko, musim hujan yang labil ini membuat jas hujan yang dijual di tokonya menjadi sepi pembeli. Untuk tahun lalu, dia bisa menjual sekitar 80 karung jas hujan per harinya. Sedangkan untuk musim hujan tahun ini, hanya bisa menjual 10 karung saja per harinya.

"Musim hujan yang tidak menentu, kadang hujan kadang panas, bahkan lebih banyak panasnya, membuat daya beli masyarakatnya turun," kata Rebecca atau yang akrab di sapa Cici saat ditemui di tokonya, Minggu (6/1/2019).

Meskipun begitu, kata Cici, tokonya tetap menyetok banyak jas hujan dengan berbagai merek dan jenis modelnya. Namun, tidak sebanyak tahun kemarin, hanya sekitar 50% saja.

Setidaknya, kata dia, terdapat empat model jas hujan yang dijual di tokonya, yakni model setelan, kalong, kalong celana, dan jubah (ponco.red) Harganya pun bervariasi sekitar Rp 50.000 hingga Rp 300.000.

Cici mengaku, meskipun daya beli masyarakat menurun, namun masih ada saja masyarakat yang membeli jas hujannya secara mendadak. Pernah ketika hujan turun, ada pembeli yang datang ke tokonya, lalu mendadak membeli jas hujan, kemudian langsung dipakainya. Pemandangan seperti ini sudah sering dialaminya.

"Saya tetap menyetok banyak barang meskipun tidak sebanyak tahun kemarin, walaupun pembeli menurun," pungkasnya.

Sementara di lokasi terpisah, pengrajin kerupuk melarat khas Cirebon justru mengalami kenaikan omzet.

Hal itu disebabkan tingginya permintaan masyarakat di sekitar Pantura. Seperti yang dialami Subandi salah satu pengrajin kerupuk melarat di kawasan Kampung Produktif Desa Gesik Kecamatan Tengahtani Kabupaten Cirebon.

Subandi menuturkan, musim awal tahun 2019 bisa dibilang masih belum tentu atau susah diprediksi. Hal itu dibuktikan masih adanya cuaca panas di Cirebon dan sekitarnya. Cuaca panas tersebut yang semakin diminati para pengrajin kerupuk karena mampu meningkatkan jumlah produksinya.

"Di tahun sebelumnya, biasanya kalo sudah masuk musim hujan kita sering mengalami kesulitan dalam produksi kerupuk melarat dan cenderung mengalami penurunan omzet. Namun di tahun ini sangat berbeda cuaca panas masih cukup tinggi sehingga kita mudah untuk menjemur kerupuk yang siap di produksi," kata Subandi.

Karena, lanjut Subandi, proses produksi kerupuk melarat harus memerlukan panas matahari agar bisa menghasilkan kualitas kerupuk yang lebih bagus dan hasilnya enak (lebih renyah).

"Alhamdulilah di tahun ini produksi kerupuk melarat masih lancar apalagi di barengi permintaan pembeli masih cukup tinggi  jadi bisa di katakan tahun ini penuh berkah," tutup Subandi. (Jhn)

Tags:

Berita Terkait

Related News