Kejanggalan Kasus Baiq Nuril Dan Tanda Tanya Penerapan UU ITE Di Indonesia

KEPUTUSAN Mahkamah Agung yang menetapkan Baiq Nuril sebagai orang yang bersalah karena telah melakukan fitnah terhadap atasannya mendapatkan kecaman para aktivis.

Para aktivis ini mendukung pernyataan Baiq Nuril sebagai korban pelecehan seksual dari atasannya, yang merupakan mantan kepala sekolah tempat Baiq Nuril mengabdi sebagai guru.

Baiq Nuril sendiri sebelumnya telah menyatakan bahwa ia sudah beberapa kali dihubungi oleh H. Muslim, mantan kepala sekolah tersebut. Muslim diduga beberapa kali bercerita tentang hubungan vulgarnya dengan bendahara sekolah dan ia telah meminta Baiq beberapa kali untuk menginap di hotel.

Sebelumnya, Baiq takut akan dipecat jika ia melapor hal tersebut. Tetapi, ketika Muslim kembali menelepon Baiq, ia memutuskan untuk merekam percakapan tersebut. Rekan kerja Baiq, Imam Mudawin, meminta rekaman tersebut dan melaporkannya ke Dinas Pendidikan Mataram. Setelah kejadian tersebut, Muslim dipecat dari sekolah. Sementara Baiq Nuril dilaporkan atas penyebaran percakapan tersebut.

Kasus Baiq Nuril tentu saja akan membuat para wanita di Indonesia yang menjadi korban pelecehan seksual takut untuk melaporkan pengalaman pahit mereka karena mereka takut malah akan divonis bersalah seperti Baiq Nuril.

Tentu saja, ini merupakan contoh yang buruk terhadap perlindungan korban pelecahan seksual di Indonesia. Kasus pelecehan seksual melalui telepon seperti ini seharusnya menjadi prioritas investigasi.

Tetapi yang dilakukan oleh investigator malah menginvestigasi hal yang kredibilitasnya masih diragukan (penyebaran percapakap oleh Baiq Nuril). Hal ini menjadi salah satu contoh ketika UU ITE digunakan untuk menyalahkan korban sebenarnya.

Biodata Penulis :

Nama   : Adi Rizka

TTL      : Meulaboh, 22 Maret 1998

No. HP : 085320005995

E-Mail  : adirizka7@gmail.com

Tags:

Berita Terkait

Related News