Di Atas Perbedaan Indonesia, Harus Menyatukan Bukan Memecah Belah

PORTALJABAR.NET-Hampir setiap saat, intoleransi menghantui Bumi Pertiwi. Mulai dari permasalahan ras, suku, agama menjadi hal yang lumrah dan seakan tak pernah bosan mewarnai berita di Indonesia. Semua hal itu, menjadi kasus dan kajian yang tak pernah lekang dan dibahas menjadi konsumsi publik yang belum pasti kapan berakhirnya. Bukannya berkurang, justru kasus intoleransi semakin bertambah dan beragam jenisnya.

Data statistik 2017, menunjukkan terdapat 177 kasus intoleransi khususnya pada 29 Provinsi di Indonesia. Lalu, pada awal Februari 2018 lalu, terdapat 3 pelanggaran yang cukup serius. Pelanggaran tersebut diantaranya, pembubaran kegiatan bakti sosial Gereja Katolik St Paulus Pringgplayan, Bantul, Yogyakarta, kemudian pengusiran seorang biksu di Tangerang, Banten dan penyerangan di Gereja Katolik St Lidwina, Trihanggo, Sleman.

Pelanggaran-pelanggaran yang marak terjadi, dilakukan oleh kaum-kaum radikalisme dan kaum intoleransi. Namun yang sangat disayangkan, banyak diantaranya pemuda berumur 15-25 tahun.

Atas kejadian tersebut, Willyam Septyanto, mahasiswa Fasilkom, Universitas Singaperbangsa Karawang, mengemukakan pendapatnya. Menurutnya, bahwa pemuda Indonesia harus menjadi tonggak utama dalam menjaga keutuhan seluruh NKRI, dan bukan dengan melakukan tindakan-tindakan intoleransi. Hal tersebut karena sudah jelas, Dasar Negara kita adalah Pancasila. 

Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia. Terbukti, dengan lima sila di dalamnya mampu menyatukan berbagai keragaman dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pancasila merupakan dasar negara yang sangat relevan dengan kondisi Negara Indonesia yang memang beraneka ragam. Dengan Pancasila pula, Indonesia memiliki slogan yang disepakati bersama yaitu "Bhineka Tunggal Ika".

Indonesia terbangun dari perbedaan yang menyatukan untuk mencapai cita-cita sebagai bangsa merdeka, makmur, dan berkeadilan. Inilah kekuatan Indonesia. Lebih lanjut, Willyam menambahkan, yang di mana semua satu adanya dan walau berbeda-beda agama, golongan maupun latar belakang namun Indonesia sudah ditakdirkan diinjak oleh perbedaan. Maka perbedaan itulah, yang membuat kita terus bersama-sama sampai dengan saat ini.

Willyam pun mengajak kepada pemuda dan mahasiswa yang sedang mencari jati diri, agar berhati-hati dalam bergaul. Dengan tujuan, agar tidak terjerumus ke aliran agama yang dianggap radikal maupun para mahasiswa yang memasuki berbagai organisasi internal kampus dan eksternal kampus.

"Karena di dalam organisasi mahasiswa seperti Cipayung (+) GMKI, GMNI, PMII, HMI, PMKRI maupun organisasi lain. Yang positif, kaum-kaum muda mampu menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara. Dan perbedaan yang ada, bukan untuk dipeributkan namun agar saling menjaga, berdiskusi, membuat kajian-kajian yang berguna untuk terus menjaga toleransi di Bumi Pertiwi ini," pungkasnya.

 

Penulis   : Willyam Septyanto (19), Mahasiswa Fasilkom, Universitas Singaperbangsa Karawang.

Editor     : Fourlena Gadis Julianna.

Tags:

Berita Terkait

Related News