Gunakan GPS Saat Berkendara Bisa Dipenjara, Begini Tanggapan RSA Dan Ojek Online

JAKARTA - Kemajuan teknologi memang sudah tidak bisa terelakan lagi, termasuk teknologi navigasi atau biasa kita kenal dengan GPS (global positioning system). Dengan GPS, kita bisa lebih mudah untuk mencari alamat ataupun tempat yang ingin kita tuju.

Terlalu sering melihat layar smartphone saat berkendara, tentu sangat berbahaya karena fokus kita yang terbelah. Baru-baru ini Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan mengemudi sambil melihat HP bisa dipenjara karena melanggar UU Lalu Lintas.

baca juga : Ternyata Segini Penghasilan Ojek Online Di Purwakarta Dalam Sehari

Menanggapi keputusan itu, Road Safety Association (RSA) setuju dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal larangan berkendara sambil melihat handphone bisa di penjara, karena sesuai dengan UU LLAJ. Namun RSA menyayangkan soal larangan penggunaan GPS yang perlu diluruskan kembali. 

"Jadi kalau secara hukum memang betul MK itu mengambil tindakan karena payung hukumnya sudah sangat jelas. Kita setuju dengan keputusan MK. Tapi sangat disayangkan pertimbangannya itu tidak matang, dan tidak melalui mekanisme diskusi dengan publik," ujarnya.

Rio kemudian mengatakan terlepas dari aturan tersebut, GPS saat ini menjadi kebutuhan dan sudah membantu banyak pengendara. 

"Sayangnya tidak ada yang membuka Forum Group Discusion (FGD), karena RSA melihat GPS ini bisa dikategorikan sebagai salah satu pelengkap," ujar Rio. 

baca juga : Dipanggil Polisi Gara-gara Ucapan 'Kitab Suci Adalah Fiksi' Rocky Gerung Tidak Akan Datang 

Dalam artian, kata Rio, tidak terlepas dari tiga hal yang menjadi pegangan utama, yakni Rules, Skill, dan Attitude. "Rules tidak bisa ditawar-tawar memang wajib untuk dipatuhi, kemudian ada Skill dan Attitude jadi keselamatan jalan tidak bisa dipandang secara parsial," ungkapnya.

Dari kacamata RSA sendiri melihat bahwa penegasan MK soal larangan penggunaan GPS saat berkendara ditafsir menolak kemajuan teknologi. "Kalo sekarang bentrok kan, melawan arus teknologi," ungkap Rio. 

Solusinya Rio mengatakan jalan tengah yang dapat diambil seharusnya merubah cara pandang dan penggunaan GPS. Terlebih menyoal aturan sebaiknya handphone dan GPS dibuat terpisah. 

"Kalau mau ambil jalan tengah (solusi), di dalam skill (keterampilan berkendara) itu dituntut untuk bagaimana kita mengenali dan memfungsikan berbagai instrumen berkendara," ungkap Rio. 

Sementara Hardin Koswara (39) seorang pengemudi ojek online menyesalkan adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengancam tilang bahkan pidana penjara terkait penggunaan Global Positioning System (GPS) saat mengemudi. Alasannya melihat GPS saat berkendara bisa mengaburkan konsentrasi.

"GPS itu penting buat driver ojol, soalnya kita kan harus tahu titik tujuannya," ujarnya.

Menurutnya, penggunaan GPS memang bisa mengaburkan konsentrasi. Namun, pengemudi bisa mengakalinya dengan tidak selalu terpatok pada GPS. Apalagi, Hardin termasuk pengemudi yang jarang menggunakan GPS lantaran telah mengenal jalanan di Kota Bandung.  

"Paling kalau ke arah yang enggak tau, saya lihat dulu jalannya ke mana baru deh jalan, enggak terus lihat hp," katanya. (ega)
 

Tags:

Berita Terkait

Related News