Generasi Milenial Anti Hoax Siap Kawal Pemilu Damai

JAKARTA- Generasi milenial, yang menjadi faktor penentu dalam politik elektoral, diketahui paling rentan terhadap bahaya hoax, atau berita bohong. 

Seperti diketahui, jumlah informasi hoax atau palsu meningkat tajam menjelang berlangsungnya hajatan akbar rakyat Indonesia yakni Pemilu Presiden dan legislatif di April 2019. Belakangan ini banyak konten mudah viral melalui sosial media atau aplikasi chatting.

Menyadari besarnya bahaya diseminasi berita palsu, perkumpulan pemuda Generasi 1 Indonesia (G1I), yang didukung oleh kaum milenial dari kalangan mahasiswa dan pelajar dari DKI Jakarta, beberapa waktu lalu menggelar deklarasi anti hoax dan penyataan kesiapan untuk mengawal pemilu yang damai, lancar dan aman. 

Sekretaris Jenderal G1I Ginka Febriyanti mengatakan pihaknya tergerak untuk mengedukasi kaum milenial terkait hoax untuk menggugah rekan mereka yang bersikap apatis terhadap perkembangan politik. Menurutnya, sikap apatisme membuat mereka tidak peka terhadap distribusi informasi yang belum terverifikasi. 

"Kebanyakan dari mereka pun lebih suka membaca judul, dibandingkan isi. Jadi hanya dengan membaca judul aja langsung bisa menarik kesimpulan. Lalu mereka main share tanpa mempertimbangkan akibatnya, padahal belum tentu informasinya benar,” ujarnya. 

“Kita dari Generasi 1 Indonesia berinisiatif utk merangkul teman-teman, untuk memberikan mereka pengarahan, agar berbagai macam hoax tersebut tidak semakin menyebar," kata Ginka.

Mengusung tema Si Cerdas Anti Hoax, Siap Kawal Pemilu Damai, G1I mengadakan beberapa rangkaian acara sebelum melakukan deklarasi, diantaranya kegiatan Fun Run, atau lomba lari di sekitar FX Senayan sampai bundaran Senayan. G1I menggunakan momentum Car Free Day untuk mengajak kaum milenial menikmati indahnya pagi di ibu kota. Selain itu, pengunjung dihibur oleh panggung hiburan.

Sementara itu Kepala Biro Multimedia Mabes Polri Brigjen Pol. Budi Setiawan mengatakan Polri memberikan apresiasi terhadap kegiatan G1I karena aktivitas mereka diharapkan bisa membantu gerakan anti-hoax dan meredam berbagai isu yang meresahkan masyarakat.

"Generasi milenial adalah penerus bangsa, calon pimpinan, kita harapkan dapat mencerna berita, kabar dan ajakan dengan baik. Segala sesuatu harus kita cek terlebih dahulu,” ujar Brigjen Budi dalam sambutanya. 

“Kita mendukung aktivitas ini karena niatnya baik, khususnya terhadap anti hoax, anti fitnah, anti hujatan dalam rangka Pemilu yang adem, damai, lancar dan sukses,” tambahnya. 

Harry Warganegara Harun, pengusaha muda dan perwakilan dari Dewan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengatakan HIPMI memberikan apresiasi besar untuk aktivitas semacam ini karena diharapkan dapat memberikan edukasi terhadap kaum milenial untuk cerdas memilih berita. 

“Ada tiga macam berita hoax. Satu, berita yang dari judul, gambar, dan isi semuanya bohong. Dua, ada yang judul dan isinya beda. Tiga, ada berita betul, tapi sebenarnya adalah berita lama yang diblast ulang untuk tujuan jahat, mendiskreditkan orang,” kata Harry.

“Kita saling mengingatkan karena kita punya hajatan besar dan setelah April kan kita semua ingin membangun bangsa kita,” tambahnya.

Bendahara Umum GP Ansor DKI Jakarta H. Amirullah yang turut memberikan kata sambutan dalam rangkaian acara Minggu pagi mengajak kaum milenial bijak menggunakan smartphonenya. 

“Jadi pergunakanlah ponsel kalian dengan sebaik-baiknya, dengan bijak. Apalagi tahun ini adalah tahun politik. Jangan sampai kita nanti malah menyebar berita-berita yang bohong, fitnah. Kita tidak ingin ada perpecahan antara sesama bangsa Indonesia,” kata H. Amirullah di depan sekitar 200 peserta yang hadir.

“Jadi jika kalian nanti menerima berita yang terindikasi hoax, jangan langsung disebarkan, tapi dipelajari. Kalau memang ada unsur hoax, langsung dihapus saja. Apalagi berita-berita itu berisi tentang ujaran kebencian, baik itu ujaran kebencian terkait agama maupun etnis,” tambahnya.

Perwakilan dari organisasi kemasyarakatan pemuda yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama ini juga mengingatkan bahaya penyebar hoax yang bisa dijerat dengan beberapa pasal pidana dari Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik

“Jadi kalau seandainya kita ikut-ikutan an menyebar berita bohong, maka bisa terjerat hukuman pidana. Saya harap acara ini tidak hanya sampai disini saja, tapi terus kampanyekan anti hoax, sampai seluruh masyarakat Indonesia, terutama warga Kota Jakarta,” katanya. (Uya)

Tags:

Berita Terkait

Related News