Masih Ada Diskriminatif HIV Di Sekolah : "Pihak Sekolah Yang Terlibat, Terancam Masuk Bui"

PORTALJABAR.NET-Berdasarkan Keputusan Komite Sekolah bersama sejumlah Wali Siswa dan didukung Kepala Sekolah salah satu SD di Solo, Jawa Tengah, 14 siswa yang tertular HIV/AIDS sejak lahir malah dikeluarkan dari sekolah secara sepihak.

Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirat, pihak sekolah yang mengeluarkan ke 14 siswanya hanya gara-gara tertular HIV/AIDS merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan termasuk pelanggaran terhadap hak anak atas pendidikan.

"Apapun alasannya, memberangus hak anak atas pendidikan ke 14 siswa selain melanggar hak asasi manusia, pihak pengelola juga dapat dikategorikan telah membiarkan dengan sengaja terjadinya pelanggaran terhadap anak atas pendidikan. Di mana diketahui, anak membutuhkan bantuan dan pertolongan," terangnya.

Lanjut Arist, berdasarkan pasal 78 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa Kepala Sekolah dan Komite Sekolah yang memberhentikan 14 siswa dari sekolahnya hanya karena ketidaksetujuan segelintir wali murid dapat diancam 5 tahun penjara dan atau denda Rp 100 juta rupiah.

Disamping itu, berdasarkan pada 76 UU RI Nomor 23 tahun 2002, perbuatan dan tindakan pihak Komite Sekolah dan Wali Siswa yang didukung oleh Kepala Sekolah adalah tindakan atau perbuatan diskriminatif dan dapat dikenakan pidana 5 tahun penjara dan atau denda Rp 100 juta rupiah. 

Oleh karena itu, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang bertugas dan befungsi untuk memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, mendesak Kepala Sekolah dan Komite Sekolah di mana ke 14 siswa yang menempuh haknya atas pendidikannya mencabut keputusan yang tidak tepat dan tidak mendidik itu. 

"Saya akan segera berkoordinasi dengan Walikota dan Kadis Pendidikan Kota Solo, untuk segera meminta Walikota Solo membatalkan keputusan yang tidak mempunyai perspektif hak anak itu dan mencarikan solusi yang tepat dan tidak melanggar hak anak," ucapnya.

"Kasihan ke 14 siswa itu, sudah menjadi korban tertular virus HIV/AIDS di hukum lagi. Seharusnya pihak sekolah, Komite Sekolah dan Wali Siswa mengasihi dan melindungi anak-anak itu bukan justru mencampakkannya. Karena perlu diketahui, tidak ada anak di dunia ini berkeinginan lahir dengan terpapar virus HIV/AIDS," jelasnya.

Menurut Arist, Komnas Perlindungan Anak meminta Komite Penanggulangan Aids (KPA) Kota Solo untuk segera memberikan penyuluhan yang tepat dan informatif kepada Wali Siswa dan masyarakat mengenai kondisi anak-anak yang terpapar virus HIV/AIDS dari kedua otangtuanya. (uya).

Tags:

Berita Terkait

Related News