Polres Cirebon Kota Dan IJTI Cirebon Raya Sosialiasikan Anti Hoax Dikalangan Pelajar SMA

CIREBON-Jajaran Polres Cirebon Kota bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Cirebon Raya menggelar sosialisasi berita hoax di SMA Negeri 6 Kota Cirebon. Dalam sosialisasi tersebut, antusias ratusan siswa dan siswi sangat terlihat, Selasa (19/2/2019).

Siswa yang mengikuti sosialisasi diantaranya dari kelas 10, 11 dan 12 yang sekaligus juga adanya deklarasi sekolah anti hoax yang baru pertama kali dilakukan di SMA Sekota Cirebon.

Kapolres Cirebon Kota, AKBP Roland Ronaldy, mengatakan, deklrasi anti hoax ini diharapkan semakin membuat pelajar SMA/SMK di Kota Cirebon dan mampu memerangi informasi atau berita hoax yang belakangan dikhawatirkan mampu memecah belah bangsa.

"Saya berharap, para siswa tidak mudah terprovokasi dan tak mudah menyebarkan berita hoax yang mudah diakses melalui media sosial," tutur Kapolres.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Kota Cirebon, Eti Rochaeni, menyambut baik dengan kegiatan deklarasi sekolah anti hoax ini. 

"Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, para siswa dapat lebih hati-hati dalam pemanfaatan gadget atau smartphone yang hampir dimiliki seluruh siswa," harap Kepsek.

Terlebih lagi, kata Eti, sebentar lagi akan menghadapi pesta demokrasi Pilpres dan Pileg 2019, di mana para siswa sangat rawan terhasut berita hoax.

"Minimal para siswa mengetahui tentang sanksi yang akan diterima jika menjadi penyebar berita hoax tersebut," terangnya.

Lebih lanjut, Ketua IJTI Cirebon Raya, Faizal Nuratman, menambahkan bahwa kegiatan deklarasi anti hoax ini merupakan program IJTI Cirebon Raya untuk memerangi hoax dikalangan pelajar atau kaum milenial.

“Kegiatan ini akan kami selenggarakan rutin dan berkeliling ke SMA-SMA yang ada di Kota maupun di Kabupaten Cirebon,” ujar Faizal.

Dalam kegiatan ini, kata Faizal, kami mengajarkan dan menerapkan konten-konten bagaimana bermedia sosial yang baik kepada para pelajar.

“Saya pikir berita hoax di kalangan pelajar sangat rawan dan para siswa ini bisa jadi pelaku atau jadi korbannya. Karena, kebanyakan pelajar ini masih kurang memahami bermedia sosial yang baik itu seperti apa,” pungkasnya. (jhn).

Tags:

Berita Terkait

Related News