Nafsu Untuk Berseteru, Aku Dan Kamu Sama-sama Mabuk

PORTALJABAR.NET-Ini adalah CATATAN PINGGIR dari PINGGIRAN, karena materi tulisannya terpikir saat aku berada di rumah yangg berlokasi di pinggiran kota dan dalam suasana liburan HARI NYEPI. 

Meski aku bukanlah penganut agama Hindu, tetapi aku ikut menikmatinya dengan rehat dari rutinitas dan mengasah isi kepala. Itulah indahnya hidup dalam negara Pancasila, bisa menikmati hari besar agama lain tanpa harus meyakini kebenaran dan menjalankan ritual keagamaannya. 

Seperti juga halnya non-muslim bersuka cita pada Idul Fitri ataupun umat Islam melewati libur Natal, Paskah, Waisak, Nyepi, dan lain sebagainya.

Baiklah, kita kembali ke tema tulisan yang terinspirasi oleh rentetan kejadian menjelang Pemilu. Sungguh miris menyaksikan dinamika perhelatan lima tahunan di negeri kita saat ini. Terlihat sudah bahwa kita kehilangan perekat semangat persatuan. Semua kejadian berada dalam sudut pantang tentang siapa (who) yang bicara atau berbuat.

Padahal, sejatinya kita harus menimpali sesuatu berdasarkan apa (what) yang diucapkan atau diperbuat. Dari cara berpikir seperti itulah, akhirnya obyektivitas jadi tergerus, sehingga yang mengemuka adalah subyektif, sentimen, fanatis, egois, nyinyir, dan sterusnya.

Setidaknya ada 2 kasus baru yg mempertontonkan aksi kita dalam cerita nafsu untuk berseteru:
1. Soal puisi Neno Warisman.

Dari untaian kata-kata indah yg panjang itu, polemiknya bersumber pada frase yang kurang lebih berbunyi "Karena jika Engkau tidak menangkan kami, kami khawatir tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu". 

Sontak kalimat tersebut diserbu beragam komentar miring. Tuduhan sebagai doa yang mengancam atau doa yang mendikte Tuhan. Padahal jika kita mau bersabar sedikit saja untuk belajar, maka doa tersebut adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW saat perang Badar. Lalu, apakah kita berani men-cap Junjunan kita tersebut dengan label sama seperti yang disematkan kepada Neno Warisman? Atau jika menterjemahkan doa salat Dhuha, bukankah terkandung pula paksaan dari ratapan kita?

Seterusnya, polemik bergeser pada waktu dan tempat saat puisi tersebut dilantunkan. Menurut kelompok penentang Munajat 212, kondisi Indonesia saat ini sedikit pun tidak memiliki kesamaan dengan perang Badar, sehingga tidak perlu ada doa-doa sejenis itu. 
Sampai disini saja sudah bisa disimpulkan bahwa masyarakat memang mulai reaktif. Pikirannya yang penting berseteru, berebut cangkang dulu, soal essensi dan titik temu pemikiran biarlah urusan belakangan.

2. Keputusan Bahtsul Masail Munas NU tentang penyebutan Kafir. 

Jika kita ikuti awal mulanya, maka satu dari puluhan butir hasil bahtsul masail tersebut terkesan akan mengganti istilah kafir dengan non-muslim. Kesan itulah yang terekam dari komentar banyak pihak akibat membaca judul atau isi berita media massa dan online yang hanya sebagian. 

Lagi-lagi, kita memperlihatkan watak asli yang tidak sabaran dan reaktif. Andai berkenan menunggu dalam hitungan jam setelah berita pertama keluar, sangat mungkin kita jadi faham makna dibalik keputusan bahtsul Masail tersebut. 

Ternyata mengganti istilah KAFIR sudah jadi bahan musyawarah di kalangan ulama NU sejak puluhan tahun lalu. Bukanlah barang baru. Itu pun dalam pertimbangan ukhuwah wathoniyah, dalam bingkai ke-Indonesiaan. 

Sumber polemiknya hanya kepada pemilihan kata atau diksi. Menurut penjelasan beberapa ulama, Rasulullah Muhammad SAW pun diriwayatkan pernah menggunakan istilah lain yang lebih halus dibanding sebutan kafir, merujuk pada piagam Madinah pasca terjadinya hijrah dari Makkah ke Madinah. 

Point salah satu hasil Bahtsul Masail tersebut tidaklah berarti menggugat esensi ayat–ayat Alquran. Andai anggapan mengganti sebutan “kafir” dengan “non-muslim” di Munas NU langsung kita tuduh sebagai pikiran liberal, sekuler ataupun mengamandemen ayat suci, jadi berdasarkan penjelasan sebelumnya, sama saja kita pun sedang menuduh Rasul pilihan bertindak demikian. 

Dua kasus tersebut hanyalah bagian kecil dari setumpuk bahan debat kusir yang berpolemik cukup panjang dan viral. Bukan soal larangan berbeda pandangan atau penyeragaman. Namun lebih kepada hilangnya semangat musyawarah untuk mufakat. Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya yang terlihat adalah nafsu menang-menangan atau saling mempermalukan.

Semestinya kita menyadari bahwa gelaran Pilpres yang diikuti oleh dua kontestan saat ini sangatlah bar-bar. Berbeda dengan kontestasi Pileg yang persaingannya lebih soft dan masih dalam batas kewajaran.

Baiklah, jika kita menganggap kebisingan ini sebagai proses menuju pendewasaan demokrasi, maka setiap anak bangsa harus menentukan batas akhir pertarungan  dan sadar terhadap penyakit sosial yang sedang menyerangnya. 

Fenomena nafsu untuk berseteru akibat perbedaan keberpihakan PilPres 2019 adalah semacam wabah epidemic, sehingga bisa menyerang siapa saja dari kalangan manapun. Disaat anak bangsa sedang didera penyakit mabuk politik, apakah kita rela membiarkannya sampai titik over dosis?

Semoga jawabannya: Tidak rela. Jadikan nafsu perseteruan sebagai halusinasi menyeramkan, setelah itu kita harus berkemas dan berbenah. 

Ditulis oleh : Dadan Suhendarsyah (Sekretaris DPD PAN Karawang).
 

Tags:

Berita Terkait

Related News