Bawaslu Purwakarta Desak KPUD Perbanyak Simulasi Pemilu

PURWAKARTA-Bawaslu Purwakarta mendorong KPU Purwakarta melaksanakan dan memperbanyak praktek simulasi pemungutan suara. Hal ini penting memastikan tidak ada kesalahan teknis saat pemungutan suara berlansung.

"Sudah kita sampaikan ke KPU, waktu rakor beberapa waktu lalu. Simulasi sangat penting dilakukan," kata Koordiv Pengawasan Bawaslu Purwakarta, Oyang Este Binos, Senin (11/3/2019).

Menurutnya, ada beberapa alasan diperlukannya simulasi. Pertama, banyaknya petugas KPPS baru di hampir semua TPS se-Purwakarta. Hal ini tentu saja akan membuat cukup gagap mereka saat bertugas.

Kedua, sambungnya, mekanisme pencoblosan di Pemilu 2019 berbeda dengan pemilu sebelumnya. Setidaknya ada 5 surat suara yang akan dicoblos pemilih dengan kotak suara yang berbeda beda. Perlu kejelian petugas mengarahkan pemilih.

Ketiga, adanya pemilih pindahan. Terhadap kategori pemilih DPTb tersebut, belum tentu surat suara yang diberikan sama jumlahnya dengan pemilih lain yang statusnya pemilih biasa atau non DPTb. Artinya, petugas harus bisa memahami betul konteks dapil.

"Pemilih pindahan dari luar daerah, misalnya Subang tentu surat suaranya akan diberikan tidak utuh," beber Binos.

Keempat, lanjut Binos, berkaca pada Pilkada 2018, masih ada petugas yang tidak cermat dalam mengisi format C7 atau daftar hadir di Pemilu 2019 hal itu tidak boleh terjadi lagi. Meski tak berpengaruh terhadap angka perolehan suara, namun dapat berpotensi gaduh. 

"Kesalahan teknis sekecil apa pun harus dihindari," desaknya.

Ia menambahkan, kelima, melalui proses simulasi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk seluruh tahapan pungut hitung berlangsung bisa diperoleh. Sehingga KPU bisa mendapat gambaran sekaligus mengupayakan langkah antisipasi jika dalam prakteknya nanti muncul kendala teknis. 

"Jadi, kalau petugas KPPS yang jumlahnya hampir 19 ribu orang itu hanya mengandalkan bintek, saya kira itu tidak cukup efektif. Perlu juga mereka sebagiannya dilibatkan langsung dalam kegiatan simulasi. Dan simulasi tak cukup sekali," tutup Binos. (rhu). 

Tags:

Berita Terkait

Related News