Serba-Serbi Ramadhan : Yuk Mengintip Masjid Bersejarah Di Kota Cirebon

CIREBON-Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa selalu didatangi masyarakat dari luar maupun dalam kota untuk menikmati suasana Ramadhan. Khususnya di bagian dalam masjid bersejarah ini, yang menjadi salah satu masjid tertua di Cirebon tersebut.

Masjid yang terletak tak jauh dari Alun-Alun Keraton Kesepuhan Kota Cirebon itu, selalu menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Hal tersebut, memikat dari berbagai keunikan yang mewarnai pembangunan masjid yang didirikan sekitar tahun 1480 oleh Sunan Kalijaga. 

Selain ibadah di masjid tersebut, masyarakat bisa menjadikan sebagai sumber ilmu baru untuk memahami nilai-nilai sejarahnya.

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, menceritakan pada masa Sunan Gunung Jati bahwa beliau menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsitek pembangunan masjid. Selain itu, Sunan Gunung Jati pun mengajak Raden Sepat, seorang arsitek dari Kerajaan Majapahit yang saat itu menjadi tawanan perang.

Raden Sepat dipilih untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid. Arsitektur bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa tersebut, memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon. 

Hal tersebut, terlihat dari bentuk bangunannya yang sama sekali tidak memperlihatkan masjid. Sehingga jika ada orang dari Madinah atau Mekah yang datang, akan mengira kalau bangunan tersebut bukanlah masjid.

"Arsitektur bangunan masjid ini tidak sama dengan masjid yang ada di Mekah maupun Madinah. Akan terlihat seperti bangunan biasa saja, namun nilai akulturasinya sangat kental sekali," ujar PRA Arief Natadiningrat, Sabtu (11/5/2019).

Terkait pemberian nama, lanjut Sultan Sepuh, masjid ini juga tidak seperti nama masjid lainnya yang menggunakan Bahasa Arab. Kata 'Sang' bermakna keagungan, 'Cipta' yang berarti dibangun, dan 'Rasa' yang berarti digunakan.

Sultan menuturkan, pembangunan masjid ini dilakukan bertahap dengan melibatkan ratusan orang. Pembangunan pertama, dilakukan untuk tiang-tiang dan tembok keliling yang ada di dalam. 

Tembok tersebut memiliki sembilan pintu kecil yang melambangkan jumlah Wali Sanga. Itulah bangunan asli Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sedangkan bangunan lainnya adalah pengembangan pada masa sultan-sultan Cirebon berikutnya.

Menurutnya, masjid ini memiliki tiang-tiang penyangga yang unik. Tiang-tiang kayu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tinggi yang sama dengan tinggi pohon, tanpa adanya sambungan. Kayu-kayu tersebut, terbuat dari kayu pohon jati yang saat itu banyak ditemukan di wilayah Cirebon. 

Meskipun begitu, ada satu tiang yang terbuat dari serpihan-serpihan kayu yang disatukan menjadi satu kesatuan yang disebut sebagai Saka Tatal dan dibuat oleh Sunan Kalijaga. 

"Filosofi Saka Tatal adalah saat kita bergotong royong dan menjunjung tinggi persatuan kesatuan, maka kita akan kuat dan bisa menopang bangsa dan negara," paparnya.

Bahkan salah satu tiang di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, diambil untuk pembangunan Kelenteng Jamblang. Hal tersebut, menunjukkan bahwa pembangunan masjid ini sangat menunjang tinggi nilai toleransi agama yang bisa dilihat pada bentuk bangunannya.

"Di sini lah para Wali Sanga tidak fanatik dengan arsitektur Madinah atau Mekah. Namanya pun menggunakan Masjid Agung Sang Cipta Rasa," tutup PRA Arief Natadiningrat. (jhn).

Tags:

Berita Terkait

Related News