Malam Selikuran Nyalakan Damar Malam, Tradisi Warga Cirebon Yang Sudah Hampir Punah

CIREBON - Tradisi menyalakan damar malam  sejenis obor yang terbuat dari bilahan bambu di lilit kain dan celupan malam (pewarna batik.red) menjelang ibadah puasa berakhir hingga kini masih dilakukan sebagian masyarakat Cirebon.

Tradisi yang biasa disebut malam selikuran itu dilaksanakan setiap malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan atau menandai hari ke-21 puasa. Namun, saat ini tradisi tersebut sudah hampir punah.

Dewi atau yang akrab di sapa Wiwiek salah satu warga Desa Gesik, Kecamatan Tengahtani Kabupaten  Cirebon, bersama keluarganya tetap mempertahankan tradisi Damar Malam tersebut pada tanggal ke-21 Sabtu malam (25/5/2019)

Pasalnya, kata Wiwiek banyak anak - anak jaman sekarang yang tidak tahu bahwa setiap bulan ramadan selain ada tradisi munggahan jelang ramadan yakni Obrog, namun juga ada tradisi jelang akhir ramadan yaitu Malam Selikuran yang di tandai dengan menyalakan Damar Malam.

Tradisi Damar Malam inilah yang mulai di lupakan sebagian masyarakat.

"Warga Cirebon, punya tradisi unik di Bulan Ramadan. Menjelang sepuluh hari terakhir di bulan puasa, sebagian besar warga sibuk menggelar ritual Malam Selikuran, selain melakukan itikaf seperti lazimnya. Namun, prosesi itu hanya dilakukan pada tanggal-tanggal ganjil," kata Wiwiek kepada Portaljabar.net. Minggu (26/5/2019).

Pada malam-malam tersebut, lanjut Wiwiek warga Cirebon selalu melaksanakan tradisi ini. Namun seiring dengan hadirnya listrik dan maraknya gadget (internet),serta petasan / kembang api, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Cirebon.

Bahkan untuk mendapatkan damar malam tidak lagi mudah. Tidak seperti dulu hampir di semua pasar menyediakan damar malam.

"Dulu semua pasar pasti ada dan menjual damar malam, sekarang sih rada susah dan hanya ada di pasar plered kabupaten cirebon harganya pun sudah lumayan, Tradisi menyalakan damar malam ini dilakukan sesudah berbuka puasa atau sesaat setelah Maghrib tiba. Damar malam itu akan padam dengan sendirinya saat memasuki waktu salat tarawih," terang Wiwiek

Menurut Wiwiek, Kegiatan menyalakan damar malam ini menjadi simbol bahwa puasa yang telah dijalani sudah beranjak ke setelah hari ke-20.

Tradisi tersebut akan terus berlangsung hingga selesainya bulan puasa, namun hanya dilakukan pada setiap malam tanggal ganjil saja, malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan malam tanggal 29. Masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah Malem (Ganjil) dan Cowong (Genap).

Tradisi yang turun temurun itu sudah ada sejak Islam masuk Cirebon. Setelah dinyalakan biasanya damar malam tersebut akan diletakkan pada sudut rumah atau sudut halaman rumah.

"Kegiatan Malam Selikuran ala warga Cirebon ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya malam Lailatul Qadar, atau Malam Seribu Bulan, yang diyakini akan hadir pada tanggal-tanggal ganjil di Bulan Suci," pungkasnya. (Jhn)

 

Tags:

Berita Terkait

Related News