Gagal Ke Senayan, Kusnaya Ditipu Mentah-Mentah Oknum PPK Dan KPU

KARAWANG,- Salah seorang Caleg DPR RI Partai Perindo, H. EK Budi Santoso, yang dikenal dengan sapaan Kusnaya menjadi salah satu korban yang termakan rayuan manis praktik 'culas' para panitia pelaksana Pemilihan Legislatif 2019.

Kusnaya menjadi korban oknum Komisioner KPU, berinisial AM yang disinyalir memiliki peran sebagai koordinator dalam bisnis kotor demokrasi ini. Pada praktik culas order suara ini, Kusnaya sebagai pemesan justru menjadi korban, uang ludes, suara tidak dapat.

Satu kali praktik terhadap satu calon saja, komisioner dan 12 PPK ini total jika dikumpulkan mendapat duit Rp. 1 miliar. Dengan jatah bervariasi, tergantung banyaknya TPS di kecamatan tempat PPK itu bertugas.

Kepada PortalJabar.net, Kusnaya, blak-balakkan menceritakan "praktik gelap" satu komisioner KPU dan 12 PPK ini. Ia harus gigit jari, uangnya tak kurang dari Rp.  1 Miliar raib berpindah ke tangan mereka.

Janji di awal, sedikitnya bisa mengamankan 50.000 suara di Karawang, namun hasilnya nihil. Ia pun gagal ke Senayan apalagi di luar konteks gagalnya Perindo lolos Parlementary Threshold.

"Karena saya sendiri tidak mau lagi terjun ke politik, gitu kan, kita bongkar saja nih, biar generasi penerus (tahu dan hati-hati). Ini yang namanya mempergunakan power struktural, dan sekali saya pertemuan dengan 12 PPK ini bisa sampai habis uang Rp. 60 juta rupiah," kata Kusnaya, pada PortalJabar.net, Kamis malam (14/6/2019)

Ia menunjukkan satu lembar kertas dokumen, yang merincikan nominal uang yang diberikan pada oknum tersebut. Dari yang terkecil Rp. 53,4 juta, sampai yang terbanyak 154,1 juta. Judul berkas itu "Daftar Belanja dan Pengirian Beras Kab Karawang".

"Nama TPS diganti kodenya menjadi Toko. Jumlah suara yang dijanjikan per kecamatan diberi kode Kiloan. Lalu ada lagi kode yang dibernama eceran. Uang dikirim via transfer ke 12 PPK ini," tuturnya.

Sedangkan untuk AM sendiri, kata Kusnaya mendapat uang lebih dari Rp. 50 juta. Namun ia tak menyebut apakah diberikan cash atau via transfer. Guna memudahkan melakukan koordinasi, AM memakai jasa salah satu PPK Rengasdengklok berinisial S, yang dkenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan AM.

"Ada buktinya. Di atas Rp. 50 juta dia (uang yang diterima AM,red)," kata pria berambut putih ini.

Kusnaya, meyakini praktik ini tersruktur dilakukan oleh oknum-oknum itu pada semua tingatan Pileg baik dari level kabupaten, provinisi, hinga caleg DPR RI seperti dia.
"Saya akan jelasakan di persidangan. Silakan sebut nama PPK dan Komisioner KPU yang merusak demokrasi," katanya seraya mempersilahkan jika media ingin menyebut nama-nama orang yang menerima uang darinya.

Kusnaya mengaku sudah sangat siap membawa kasus ini sekalipun harus ke ranah hukum. Meski ia sendiri menyadari risiko hukum yang bakal menimpanya.

Ia menegaskan siap menjadi Justice Collabolator guna membuka secara gamblang mengenai praktik culas yang terjadi di lembaga penyelenggara pemilu di Karawang.

'Jangan sampai orang pontang-panting kiri-kanan blusukan, dikalahkan orang yang tidak ngapa-ngapain, cuma punya duit,  ngasih duit ke PPK. Tujuan saya, cuma itu kenapa saya mau bongkar. Saya sendiri punya risiko hukum,” terang Kusanaya yang kembali menegaskan siap blak-blakkan di pengadilan dan bakal mengajukan jadi Justice Collabolator pada kasus ini.

Saat dikonfirmasi, Komisioner KPU berisinial AM itu, tak kunjung ada jawaban. Sejumlah PPK juga sempat dikonfirmasi namun enggan menjawab. Hanya ada PPK Rengasdengklok berinisial S, yang membantah sudah menerima uang Rp. 111 juta.

"Tiada ada, kalau ada sudah dipangggil sejak awal-awal," bantahnya. (wins)

Tags:

Berita Terkait

Related News