Miris Pembimbing Inklusi Di Kabupaten Bandung Masih Kurang

BANDUNG,- Dari tahun 2004 kabupaten Bandung sudah di nobatkan oleh Kementrian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) sebagai kabupaten inklusif. Namun perhatian terhadap guru pembimbing masih sangat kurang. 

Koordinator unit stimulation center di sekolah Inklusif Ibnu Sina Yulia Indriani, menyebutkan sebagai pembimbing untuk murid inklusif terbilang sulit dan penuh tantangan. Namun pemerintah belum memberikan perhatian lebih pada guru pembimbing.

"Sampai sekarang kita belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Padahal tanggung jawab kita cukup berat," ucapnya, sabtu (14/6/2019).

Bahkan sejauh ini pemerintah baru meyediakan program pendidikannya saja, tanpa memikirkan kedepannya anak inklusif ini mau seperti apa. Dia menjelaskan pemerintah baru memperhatiak sekolah SLB saja, padahal sekolah inkluaif dan SLB berbeda.

Biasanya sebut dia, SLB menangani satu jenis ABK saja, sedangkan Inklusif harus bisa menangani seluruh jenis AbK

"Kalau ke SLB bisanya di kelompokan kalau Inklusif semua bisa masuk," ucapnya.

Dia meyebutkan, sekolah inklusif ini biasanya tidak bisa mengikuti kurikulum yang di sediakan pemerintah. Sehingga harus ada pendekatan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.

"Anak ABK ini tidak perlu di kasihani tapi harus di beri kesempatan," ucapnya. (ivan)

Tags:

Berita Terkait

Related News