Impor Bahan Plastik Tinggi, Menperin : Pemerintah Pacu Industri Daur Ulang

Ekonomi, PORTALJABAR.net - Pengembangan industri daur ulang atau recycle industry terus dikebut pemerintah untuk mengurangi impor bahan baku berupa plastik dan kertas yang kebutuhannya masih sangat tinggi bagi penopang proses produksi berbagai sektor industri di Tanah Air.

"Jadi, industri daur ulang ini akan kami terus dorong. Beberapa industri di dalam negeri sudah bisa melakukan proses daur ulang. Sebenarnya daur ulang ini tidak hanya dilakukan untuk plastik, tetapi juga kertas dan aluminium. Plastik itu bukan sampah, tetapi raw material (bahan baku)," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dikutip portaljabar.net melalui laman WE, Kamis (27/06).

Airlangga mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik, diperlukan industri petrokimia. Namun, pembangunan fasilitas tersebut bakal memakan waktu cukup lama. Paling tidak, setelah peletakan batu pertama, dibutuhkan tiga tahun untuk pabrik itu bisa berproduksi. 

"Sehingga, guna mencari solusi dalam waktu dekat, agar kita bisa mengurangi impor ini, didorong melalui recycle industry. Dan industri ini investasinya jauh lebih murah," jelasnya.

Seiring upaya strategis tersebut, pihaknya aktif memacu tumbuhnya industri petrokimia di dalam negeri. Hingga saat ini, sudah ada tiga perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan sektor industri petrokimia di Indonesia, yaitu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Lotte Chemical Titan, dan Siam Cement Group (SCG).

"Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri. Sehingga nanti kita tidak perlu lagi impor," ujarnya.

Kemenperin, lanjut Airlangga, menargetkan jumlah limbah plastik yang dapat didaur ulang pada tahun ini bisa menyentuh hingga 25%. Angka itu naik dua kali lipat lebih dari rata-rata limbah plastik yang didaur ulang pada tahun-tahun sebelumnya, yakni sebesar 10%.

Hal yang sama, kata Airlangga, juga terjadi di kertas. Salah satu produk yang dihasilkan dari kayu ini sedang dibatasi penggunaannya, sehingga dibutuhkan industri recycle paper. Sekarang hasil industri recycle paper ini mendapatkan apresiasi dari sektor lainnya, seperti perusahaan consumer goods yang mengutamakan bahan baku daur ulang.

Ia menuturkan, implementasi konsep circular economy atau ekonomi berkelanjutan di sektor industri, selain telah menjadi tren dunia, konsep tersebut juga dinilai mampu berkontribusi besar dalam menerapkan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan yang menjadi tujuan dari sustainable development goals (SDGs).

"Industri manufaktur berperan penting dan memberikan dampak yang luas dalam mewujudkan circular economy di Indonesia," pungkasnya.(al/*)

Tags:

Berita Terkait

Related News