Orang Tua Korban Menjerit, Sudah 9 Bulan Kasus Kematian Anaknya Tak Terungkap

BANDUNG,- Sudah 9 bulan berlalu, namun misteri kematian Fajar Maulana warga Jalan Cibogo Atas Kelurahan Sukawarna Kecamatan Sukajadi Kota Bandung tak kunjung terkuak.

Remaja berusia 14 tahun ini meninggal dunia diduga akibat dianiaya sekelompok remaja lainnya di Jalan Setramurni (Dangdeur) Kelurahan Sukarasa Kecamatan Sukasari, September 2018 silam.

Saat ditemukan, pada tubuh Fajar tidak terlihat luka serius. Namun kepalanya mengalami luka dalam diduga akibat dihantam benda keras.

"Tempurung kepalanya pecah," kata ayah korban, Solihin (47), kepada sejumlah wartawan yang menemuinya di rumahnya di kawasan padat penduduk Jalan Cibogo Atas Kelurahan Sukawarna Kecamatan Sukajadi Kota Bandung, Sabtu (29/6/2019).

Sambil menahan air mata, Solihin menceritakan awal mula kejadian yang akhirnya merenggut nyawa anak laki-laki kesayangannya itu. Menurut dia, Minggu (9/9/2018) sekitar jam 22, Fajar diajak 2 orang temannya bernama Yadi dan Ujang untuk pergi keluar rumah.

"Anak saya didatangi temannya ke rumah, diajak pergi. Waktu saya tanya mau kemana, anak saya (korban,red) bilang mau kuliner," kenangnya.

Sekitar pukul 00.30 ada kabar dari teman Solihin, bahwa Fajar mengalami kecelakaan di Jalan Setramurni (Dangdeur) Kelurahan Sukarasa Kecamatan Sukasari. Begitu Solihin tiba di lokasi, Fajar sudah tergeletak tak sadarkan diri.

Fajar pun dibawa oleh Solihin ke dokter 24 jam di Kecamatan, sempat dalam perjalanan Fajar mengalami muntah-muntah. Dari klinik, Fajar dirujuk ke RS Salamun dan mendapatkan perawatan CT Scan yang menunjukan korban telah pecah tempurung.

Namun, lagi-lagi dokter di RS Salamun tak bisa melakukan pengoprasian pecah  karena kurangnya alat. Solihin kemudian membawa Fajar ke RS Hasan Sadikin, namun Fajar kembali ditolak untuk proses pengoperasian mengingat Solihin hanya menunjukan BPJS.

"Alasannya karena BPJS hanya untuk sakit dan bukan peruntukan kejadian kecelakaan jalan," ujarnya sendu.

Saat Solihin sibuk mengurus BPJS untuk operasi si buah hati, ia mendapat kabar dari Rumah Sakit bahwa Fajar telah mengalami koma. Senin 10 September 2018 pukul 22.00 WIB, Fajar meninggal dunia.

Solihin kemudian melapor ke Polsek Sukasari terkait meninggalnya Fajar yang dinilainya tak wajar. Beberapa petugas Polsek Sukasari salah satunya bernama Toto, kata Solihin, memintanya untuk melakukan otopsi.

"Saya gak tau gunanya otopsi itu untuk apa, tapi kemudian dijelaskan untuk mengungkap kasus pembunuhan anak saya, agar memudahkan proses pengungkapan pelaku," bebernya.

Tiga hari berselang setelah kematian Fajar, Solihin pun kembali mendatangi Mapolsek Sukasari meminta kejelasan perkembangan kasus. Namun, pihak kepolisian mengatakan tidak ada titik terang.

Lalu, Solihin diberikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penelitian (SP2HP) dari kepolisian yang menyatakan masih nol atau belum ada perkembangan.

Tak kunjung mendapatkan kabar, Solihin pun kembali mendatangi Mapolsek Sukasari pasca 40 hari Fajar meninggal. Kembali, Solihin pulang dengan harapan kosong.

"Alasannya karena ketiga saksinya (Yadi, Ujang dan Fadli) gak singkron.

Padahal, mereka bertiga berada di lokasi yang sama dengan Fajar. Sejak dijemputnya Fajar dari rumah hingga saya datang menjemput lagi anak saya yang sudah tak sadarkan diri mereka masih disana," jelasnya.

Setelah 9 bulan berlalu, kasus Fajar pun terus tak mengalami perkembangan satu pun. Bahkan, salah seorang anggota polisi mengatakan hal yang tidak menyenangkan kepada Solihin.

"Ya silahkan aja cari sama bapak pelakunya. Kan ucapan itu gak etis banget masa ayah korban harus mencari pelaku sendirian," ucap Solihin yang menirukan nada polisi tersebut.

Merasa sakit hati dengan sikap anggota polisi di Polsek Sukasari, Solihin pun berencana akan mengambil berkas perkara kemudian dilaporkan ulang ke Polrestabes Bandung.

"Saya sangat tidak puas dengan Polsek Sukasari, sudah 9 bulan masih nol. Padahal hasil otopsi sendiri dijelaskan bahwa pecahnya tempurung kepala akibat pukulan benda tumpul dari jarak dekat," tuturnya.

Tak hanya otopsi, proses saksi, visum bahkan CCTV sudah ada sejak sepekan Fajar meninggal.

"Ya minimal adalah satu point kejelasannya, karena  ciri-cirinya sudah jelas di CCTV, hasilnya sudah ada dari otopsi ya kenapa masih nol?" ujar Solihin emosional.

Solihin mengaku sempat dipanggil lagi oleh pihak Polsek Sukasari, namun terlanjur kecewa ia pun tak menghiraukan panggilan tersebut dan langsung melapor ke Polrestabes Bandung.

"Saya mendapatkan kabar dari rekan-rekannya Fajar, bahwa anak saya meninggal akibat ulah dari teman satu gengnya," jelasnya.

Solihin hanya berharap polisi di mana pun tak lagi mengatakan hal tidak menyenangkan kepada keluarga korban.

"Mereka kan jauh lebih hebat dibandingkan warga biasa, alat bukti udah lebih dari cukup, saksi juga gak kemana-mana ya sampai tuntaslah tugasnya apalagi ini masalah nyawa. Jangan sampai, kewajiban masyarakat lapor kepolisi malah diberikan ucapakan tak menyenangkan. Kalau ternyata saya memang menemukan pembunuhnya siapa, gak mungkin dong tidak emosi. Lalu kalau saya kelepasan gimana? Masa iya, anak saya sudah meninggal lalu saya harus dibui juga," pungkasnya. (nie/*)

 

Tags:

Berita Terkait

Related News