Relawan HIV/AIDS Karawang Tuding KPA Slow Respon Dalam Bekerja

KARAWANG,- Keluhan yang disampaikan oleh Bunga (bukan nama sebenarnya) seorang relawan HIV/AIDS Karawang sedikit demi sedikit dapat membuka tabir penanganan Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap penyakit menular dan mematikan ini. Bunga yang juga seorang penderita HIV ini mengeluhkan berbagai kejadian yang dialami selama menjadi relawan.

Dalam perjuangannya menjadi relawan HIV/AIDS di Karawang, Bunga mengaku serasa bekerja sendiri tanpa adanya bantuan Pemda Karawang dalam hal ini Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) cabang Karawang. "Sedihlah jadi relawan HIV/AIDS di Karawang, kita bekerja seperti tidak ada arahan dari KPA Karawang," ujar Bunga kepada Portaljabar.net.

Bunga mencontohkan ketika ada pasien HIV yang baru terdeteksi, dirinya melaporkan kepada KPA Karawang namun respon yang didapat slow respon bahkan tidak ada respon sama sekali. "Seperti waktu itu ada orang yang baru kena HIV di Kecamatan C, saya laporan ke KPA malah gak ada respon bahkan saya dibentak oleh anggota KPA Karawang namanya inisial Ris,"ucapnya.

Selain itu ketika dirinya mengantarkan pasien ke RSUD Karawang, terdapat beberapa KDS (Kelompok Dukungan Sebaya) selaku relawan yang diakui Pemda Karawang. Para KDS ini menurut Bunga tidak respon ketika dirinya mengantarkan pasien HIV/AIDS ke RSUD. 

"Mereka (KDS) diam saja ketika saya bawa pasien, sudah saya anterin jauh-jauh malah di RSUD malah dicuekin," jelasnya.

Sementara itu anggota KPA Karawang, Riska sangat geram dengan tudingan dari Bunga yang menyebut institusinya slow respon ketika menangani pasien. "Menjaga identitas narasumber (Bunga)? Kita ga ada kewajiban menjelaskan yang lain-lain, ini pencemaran nama baik," jelas Riska.

Bahkan Riska menyampaikan amarahnya saat dikonfirmasi Portaljabar.net terkait tudingan slow respon dari Bunga. "Bilangin ke dia, kenapa gak dia yang jalan antarkan pasien, kan sama-sama relawan yang tidak digaji kenapa mengandalkan KDS," ucapnya.

Lanjut Yana, Anggota KPA Karawang, menjelaskan bahwa isntitusinya bukannya slow respon dalam menangani kasus HIV/AIDS namun karena penyakit menular ini tidak bisa sembarangan ditangani. 

"Kita gak bisa sekongyong-konyong home visit ke rumah pasien, ada aturannya karena penyakit seperti ini kan berbeda dari yang lain," ucap Yana.

Selain itu kata Yana adanya keterbatasan personel KDS yang hanya berjumlah 4 orang yang melayani 700 lebih pasien HIV/AIDS terdaftar di Pemda menjadi alasan slow respon dalam penanganan seperti ini. (Uya)

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News