Harga Bahan Baku Rotan Naik Pengrajin Menjerit

CIREBON,- Untuk menutupi kerugian akibat harga bahan baku rotan yang terus merangkak naik, pengrajin rotan terpaksa menyesuaikan harga jual.

Penyesuaian harga tersebut tidak bisa dilakukan terlalu tinggi, karena harus bersaing dengan pengrajin dirumah produksi lainnya. Kondisi tersebut praktis membuat penghasilan pengrajin rotan menjadi minim.

Hal itu seperti dikeluhkan, salah seorang pengrajin rotan jenis tudung saji asal Blok Kerta, Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru,

"Naik terus harga bahan bakunya, akhirnya terpaksa harga jual harus dinaikkan. Tapi ya enggak bisa terlalu tinggi juga karena harganya bersaing dengan produksi lain disekitar sini," kata Suteni. Rabu (17/07/2019)

Rotan yang diproduksi Suteni berupa tudung saji dengan berbagai macam ukuran, mulai ukuran paling kecil hingga yang paling besar.

Suteni membandrol harga terendah yang disesuaikan itu yakni Rp 17.000 per buah. Sedangkan untuk ukuran yang paling besar dihargai Rp 65.000 per buah.

"Kebanyakan pesanannya dari luar kota seperti Kalimantan, Solo, Jakarta, Bandung. Dan yang dari Malaysia juga pernah pesan disini,"katanya.

Bersama suaminya, Suteni mengaku telah menekuni usaha kerajinan rotan selama 7 tahun. Selama waktu tersebut, ia telah banyak merasakan pasang surut omzet.

"Kalau bahan baku baku rotan sih tidak sulit. Saya mendapatkannya masih dari lingkungan Desa Tegalwangi saja," katanya.

Dikatakan Suteni, sejak awal tahun hingga pertengahan tahun 2019 ini omsetnya terbilang naik jika dibandingkan tahun lalu dalam kurun waktu yang sama.

"Kadang turun dan kadang naik, enggak menentu juga. Tapi kalau tahun sekarang lagi naik," ucapnya.

Selama satu bulan, omset usahanya menacapai kisaran Rp5 juta. Nilai tersebut belum termasuk untuk membayar 4 orang pengrajin yang membantu bisnis rumahannya itu.

"Jadi kita buatnya tergantung pesanan. Tapi kalau enggak ada pesanan juga kita tetap produksi. "katanya. (abr)

 

Tags:

Berita Terkait

Related News