Gagal Tanam, Petani Gegesik Aksi Di Tengah Sawah

CIREBON, - Petani di Desa Jagapura Wetan dan Jagapura Kidul, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, sejak satu bulan terakhir ini kesulitan mendapatkan pasokan air.

Akibatnya para petani di kampung tersebut mengalami gagal tanam pada sejumlah titik. Sejumlah petani di Blok Situnggak, meluapkan keresahannya dan turun langsung ke lahan pertanian dengan membawa spanduk putih bertuliskan nada kecaman kepada pemerintah setempat.

Koordinator Petani Jagapura, Uug Kujaeni (45 tahun) menyebutkan, areal persawahan di Desa Jagapura Wetan, sebanyak 150 hektare mengalami gagal tanam. Sedangkan untuk Desa Jagapura kidul, seluas 150 hektare, belum lagi di titik hamparan lainnya.

"Ini terjadi sejak sebulan terakhir ini. Ini disebabkan pasokan air dengan metode tata gilir tidak pro kepada petani, "katanya. Selasa (30/07/2019)

Salah satu penyebabnya, kata Uug, selain tata gilir yang tidak optimal ditambah persediaanya yang menipis. Indikasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat bahkan tidak proporsional.

"Sehingga lahan pertanian di desa ini hanya dapat jadwal pengaliran air selama 12 jam setiap pekannya, "katanya.

Dilanjutkan Uug, selama 12 jam itu, air yang dialiri dari saluran irigasi tersebut hanya mampu mengaliri dua hektare lahan saja. Sedangkan lahan lainnya sama sekali tidak teraliri.

"Idealnya saat musim kemarau seperti ini tuh tiga sampai empat hari bukan 12 jam. Jelas pasokannya sangat kurang ," katanya.

Kerugian akibat bencana kekeringan tersebut, kata Uug, diperkirakan mencapai ratusan juta dan ratusan buruh tani tidak dapat bercocok tanam.

"Kalau nganggur petani hanya bisa melamun. Mereka mau mengerjakan apa jika kondisinya terus seperti ini," katanya.

Petugas Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Ali Effendi mengatakan, sejak awal Juli 2019 lalu 5.000 hektare persawahan terancam mengalami kekeringan. Untuk mengatasi hal tersebut, para petani diimbau untuk melakukan tanam palawija

"Kalau menanam padi butuh air yang banyak, sedangkan sumber air terbatas. Karena itu, kami menyarankan petani menanam palawija yang tidak membutuhkan air dalam jumlah besar," ujarnya.

Ia juga mengaku terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilaah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung untuk penambahan debit air. Jadwal gilir giring air juga sudah ditetapkan bekerjasama di lapangan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPR).

"Jajaran TNI dan kepolisian juga turut berpartisipasi untuk pengawalan dan pengamanan air supaya tidak terjadi persoalan sosial di lapangan," tandasnya. (abr)

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News