Hasanuddin: Penyebar Hoax Penyebab Kerusuhan Di Papua Harus Diseret Ke Penjara

BANDUNG,- Kerusuhan yang terjadi di bumi Papua sejak Senin (19/8) semakin meluas. Dimulai dari pembakaran Kantor DPRD Manokwari berlanjut hingga malam hari semakin berkembang ke Sorong.

Massa semakin beringas dan membakar Lapas di Sorong Kota Papua Barat. Lapas yang berisi 552 penghuni hangus terbakar hingga menyebabkan ratusan narapidana kabur.

Politisi PDI Perjuangan TB Hasanuddin menilai kerusuhan yang terjadi di Papua awalnya dari masalah ketersingggungan yang kemudian berkembang menjadi tindak anarkis.Ia menilai, kerusuhan yang berawal dari masalah harga diri hingga menyulut kemarahan masyarakat Papua ini harus mendapat perhatian serius dari Pemerintah.

Anggota DPR RI terpilih periode 2019 - 2024 ini khawatir bila tak ada tindakan tegas akan menjurus pada disintegrasi bangsa.

"Aparat harus melakukan investigasi secara rinci dan menyeluruh serta membawa otak yang menyebabkan terjadinya kerusuhan dalam proses hukum," kata Hasanuddin di Bandung, Selasa (20/8).

Hasanuddin mengungkapkan aparat harus melakukan penyelidikan dimulai dari siapa yang menyebarkan isu atau berita bohong terkait adanya korban mahasiswa Papua di Surabaya.

Akibat berita hoax tersebut, cetus Hasanuddin, menimbulkan konflik dan kerusuhan yang terus meluas, hingga mengakibatkan rusaknya infrastruktur di bumi cendrawasih.

"Penyebar hoaks ini harus dijerat UU ITE lantaran menyebarkan kebencian. Ini termasuk pidana," kata mantan pimpinan Komisi I DPR RI ini.

Hasanuddin juga mengecam ormas atau LSM yang melakukan sweeping. Ia menegaskan, ormas tak memiliki kewenangan untuk melakukan sweeping.

"Harus ditindak, jangan sampai ada sekelompok orang ini bertindak arogan hingga melakukan aksi sweeping. Mari kita jaga bersama persatuan dan kesatuan di republik ini, saling menghormati dan toleransi sesama anak bangsa," tandasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui kerusuhan di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8) pagi dipicu insiden penyerangan dan pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, dan kejadian di Malang, Jawa Timur akhir pekan silam. Di Surabaya, 43 mahasiswa asal Papua sempat diangkut dan diperiksa di Polrestabes Surabaya.

Menurut Tito, apa yang terjadi di Surabaya dan Malang sebenarnya hanya peristiwa kecil. Namun ada oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di dua kota tersebut untuk memicu kerusuhan yang lebih besar lagi.

Oknum tersebut kemudian menyebarkan informasi yang tak benar atau hoaks di media sosial. Di antaranya ucapan atau makian yang dialamatkan kepada mahasiswa Papua. Lalu ada informasi bahwa ada satu mahasiswa Papua yang tewas di Surabaya. (nie/*)

 

Tags:

Berita Terkait

Related News