Sepetak : Korupsi Di Pertamina Tumbuh Subur Sejak Didirikan

KARAWANG,- Kondisi Pertamina yang tidak henti-hentinya dirundung masalah membuat banyak pihak ikut prihatin. Masalah yang terkini adalah bocornya pipa minyak dilaut utara Karawang sehingga limbahnya mencemari laut dan pesisir.

Selain merusak ekosistem laut dan pesisir, limbah yang dihasilkan akibat kelalaian Pertamina ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat sekitar pesisir yang setiap hari menghirup udara tidak sehat yang bersumber dari limbah berbahaya tersebut.

Ketua Sepetak (Serikat Petani Karawang) Wahyudin mengatakan bahwa tak hentinya Pertamina dirundung masalah berakar pada sejarah awal pendirian perusahaan pelat merah tersebut yang merupakan ladang subur untuk melakukan korupsi.

"Pertamina itu sejak awal berdiri sudah tumbuh subur dengan korupsi. Dalam sejarahnya, pada awal-awal kekuasaan orde baru, tepatnya 1967 Pertamina melakukan eksplorasi besar-besaran hingga ditemukannya lapangan minyak lepas pantai (offshors) bernama lapangan arjuna," ucap Wahyudin.

Kata dia, kala itu Pertamina memiliki ruang gerak yang amat lebar dalam operasi bisnis sehingga mendudukannya sebagai badan regulator yang mencetuskan sistem kontrak konsesi migas bernama Production Sharing Contrack (PSC) bagi kontraktor asing.

Dengan kebijakan PSC ini Pertamina memeroleh keuntungan sekitar 70-85% dari hasil produksi yang dijalankan raksasa minyak multinasional.

"Keuntungan tersebut diperoleh dengan sangat mudah tanpa melakukan eksplorasi dan produksi serta menyelamatkan pertamina dari ancaman kemungkinan resiko eksplorasi dry hole," ujarnya.

Namun, keuntungan Pertamina tidaklah masuk ke kas negara melainkan mengalir deras ke kantong Dirut Pertamina Ibnu Sutowo dan juga menuju Cendana.

Hingga akhirnya genap satu windu sejak itu Pertamina nyaris mengalami kebangkrutan setelah keganasan korupsi yang dilakukan Ibnu Sutowo yang pada saat itu memimpin Pertamina dengan gaya autocratic private entrepeneur memicu utang pertamina hingga mencapai US$ 10,5 miliar.

Wahyudin berpendapat belum terlambat bagi manjemen Pertamina masa kini untuk berbenah walaupun perusahaan pelat merah tersebut sudah terstigma sebagai tempat subur untuk melakukan korupsi.

Upaya untuk berbenah bagi Pertamina kata dia adalah agar kembali fokus pada tujuan sosial yaitu mengemban tugas memenuhi kebutuhan migas nasional dengan mengutamakan kepentingan rakyat dan sebagai Badan Usaha pada tujuan bisnis ia memiliki peran akumulasi kapital.

Selain itu sebagai sebuah entitas bisnis dan BUMN, Pertamina tentunya dituntut berkiprah pada prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabel, transparan dan sustainable. (Uya)

Tags:

Berita Terkait

Related News