Komnas Anak Desak Pemkab Bogor Evaluasi Dinas Pendidikan

BOGOR,- Duel maut ala Gladiator yang dilakukan antar pelajar berujung tewasnya A (17), siswa SMA di Kecamatan Gunung Putri Bogor menjadi perhatian serius Komnas Anak. Sebab kasus gladiator ini terus berulang tanpa penyelesaian yang mengakar pada persoalan perilaku kekerasan yang  dibiarkan terjadi di lingkungan sekolah.

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menekankan, perkelahian antar pelajar ini tentu tidak terlepas dari tanggung jawab pengelola sekolah dimana saat ini korban sedang menempuh studinya. Hal ini juga menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.

"Sebab kasus gladiator ini bukanlah yang pertama terjadi di Bogor dan diketahui pula bahwa sekolah atau tempat korban dan pelaku sudah sering terjadi atau langganan perkelahian antar pelajar, namun tidak mendapatkan perhatian dari pihak sekolah terutama  Dinas Pendidikan sebagai pemegang kendali pendidikan di Kabupaten Bogor," ucap Arist.

Atas peristiwa ini, Komnas Anak memandang perlu dan serius mendesak Bupati Bogor untuk melakukan evaluasi kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan keberadaan sekolah-sekolah yang masih membiarkan terjadinya praktek-praktek kekerasan di satuan pendidikan.

Sesuai dengan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor 23 Tahun 2013 tentang Sistim Pendidikan Nasional, Lembaga Pendidikan dan Satuan Pendidikan serta di wilayah hukum Kabupaten Bogor harus steril dan menjadi zona bebas dari kekerasan, bullying dan dari segala bentuk kekerasan lainnya.

Merujuk kasus gladiator yang terjadi di Gunung Putri ini, Komnas Anak meminta kepada Bupati Bogor untuk segera mencanangkan Sekolah Ramah Anak agar sekolah menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak untuk mempersiapkan cita-cita dan masa depannya sehingga menjadi sumberdaya yang unggul sesuai dengan program pemerintah yang dicanangkan Presiden Jokowi yakni membangun sumberdaya yang unggul dan bersaing lewat penyiapan pendidikan bebas dari kekerasan dan yang memerdekakan peserta didik.

Peristiwa Gladiator ini diawali saat korban janjian dengan tersangka JI (17)  dan AM  (17) untuk bertemu di depan sebuah pabrik di Wanaherang Kecamatan Gunung Putri.  Mereka berdua pergi menggunakan sepeda motor menuju lokasi. 

Setelah bertemu, korban dan pelaku akhirnya melakukan duel maut satu lawan satu dengan menggunakan alat senjata tajam jenis celurit. Akibat dari perkelahian tersebut korban terkena sabetan celurit di bagian tangan sebelah kanan dan paha kaki sebelah kanan serta kepala, kemudian pelaku dan teman-temannya melarikan diri dari lokasi. Akibat dari perkalian tersebut korban meninggal dunia.

"Kedua sekolah ini disinyalir sebagai siswa yang sering terlibat tawuran jadi sudah turun temurun antara senior dan junior. Hanya karena gengsi. Kejadian  ini perlu didalami, siapa sesungguhnya alumni yang dimungkinkan ada geng di dalamnya," kata Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky Pastika.

Dicky meminta kepada orangtua dan masyarakat agar bersama-sama menjaga dan mengawasi anak-anak terutama kepada orang tua agar jangan sampai hal ini terulang kembali. Dicky juga berharap adanya pengawasan ekstra terhadap alat komunikasi dan kegiatan dari pihak sekolah serta orang tua dalam memperhatikan murid atau anak-anaknya.

Diharapkan pula sekolah memberikan kegiatan ekstrakurikuler dan pembinaan rohani terhadap muridnya agar tidak dapat terpengaruh oleh hal-hal yang negatif seperti tawuran dan perkelahian antar pelajar. (uya/*)

Tags:

Berita Terkait

Related News