Perayaan Asyura Di Kabuyutan Gegerkalong Berjalan Khidmat

BANDUNG,- Kecintaan urang Sunda pada Baginda Nabi Muhammad Saw menyatu dalam tradisi lokal rakyat Sunda.

Dalam perayaan Asyura yang digelar di Masjid Nurul Huda oleh Kabuyutan Gegerkalong, Senin (9/9) malam, nuansa lokal ini kental terasa dalam mengungkapkan rasa cinta pada Baginda Nabi Muhammad Saw.

Jamaah yang hadir, terlihat khusyuk mendengarkan wejangan karuhun Kabuyutan Gegerkalong, Abah Yusuf Bahtiar diiringi musik gamelan dan tembang-tembang daerah Sunda.

Berbagai penganan khas Sunda disajikan, termasuk juga dawegan (kelapa muda) yang menjadi merupakan tradisi khas Kabuyutan Sunda dan tak ketinggalan bubur merah bubur putih yang melambangkan ke-Indoenesia.

"Peringatan Asyura ini merupakan peringatan syahidnya cucu Rasulullah, Imam Husein. Jamaah yang hadir  dari seluruh Indonesia bahkan dihadiri juga tokoh-tokoh lintas agama seperti Hindu, Budha, Kristen dan Penghayat," kata Karuhun (sesepuh) Kabuyutan Gegerkalong Abah Yusuf Bahtiar kepada wartawan.

Menurut Abah Yusuf, tradisi perayaan Asyura atau Syuraan merupakan budaya Sajaja Padjajaran dan sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Peringatan Asyura 10 Muharam, ini kata Abah Yusuf, bertujuan untuk memperingati kebangkitan nilai-nilai perjuangan, kepahlawanan, dan pengorbanan Imam Husein.

Selain itu, menurut dia, perayaan Asyura selalu memiliki semangat untuk mendukung empat pilar kebangsaan dan menjunjung tinggi kebinekaan.

"Disini kita benar-benar mejunjung tinggi kebinekaan, toleransi beragama dan tetap berpegang teguh pada Pancasila," tutur Abah Yusuf.

Hari Asyura bagi kaum Syiah merupakan sebuah hari ketika salah satu imam suci mereka, Al-Husein, wafat di padang bernama Karbala, Irak, pada 680 Masehi.

Acara ini dimulai pada pukul 20.00 hingga 22.00 dengan agenda salawat, pembacaan riwayat Imam Husain serta wejangan Karuhun Kabuyutan Gegerkalong dan diakhir dengan makan bersama. (nie/*)

 

Tags:

Berita Terkait

Related News