Berikan Edukasi Untuk Perdagangan Berjangka

BANDUNG,- Sudah tidak asing lagi bisnis Perdagangan Berjangka Komoditi  (PBK) dan Produk Derivatif Indeks di Indonesia. Namun tidak sedikit pula yang belum mengetahui trik dalam menjalankan bisnis tersebut.

PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) Cabang Bandung memberikan edukasi mengenai bisnis berbasis daring tersebut untuk lebih mendekatkan produk investasi berjangka kepada masyarakat agar mengenal peluang dan risikonya.

Hadir sebagai narasumber di acara ini, ialah Stephanus Paulus Lumintang (Direktur Utama PT. Bursa Berjangka Jakarta), Fajar Wibhiyadi (Direktur Utama PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero)), dan Anthony Martanu (pimpinan cabang RFB Bandung).

Dalam paparannya, Direktur Utama PT. Bursa Berjangka Jakarta Stephanus Paulus Lumintang memulai penjelasan dari sejarah awal industri berjangka komoditi yang dimulai dari perdagangan beras di Dojima, Jepang pada tahun 1710. Lalu berkembang sistem forward di Amerika Serikat sampai terbentuk Chicago Board of Trade (CBOT) dan bertumbuh bursa-bursa berjangka komoditi lainnya di berbagai negara.

Selanjutnya, kehadiran Bursa Berjangka Jakarta di Indonesia yang dimulai pada tahun 1999, memiliki misi dan fungsi utama sebagai lindung nilai terhadap komoditi di Indonesia dari perubahan kurs.

"Indonesia kaya dengan sumber alam di sektor perkebunan, migas dan pertambangan. BBJ ingin menjadi sarana bagi setiap pelaku komoditi di Indonesia dengan menjalankan fungsi sebagai sarana price discovery, sarana hedging, dan sarana investasi," terang Paulus.

Pemateri berikutnya, Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Fajar Wibhiyadi mengungkapkan, fungsi KBI dalam melakukan proses kliring pada setiap transaksi perusahaan pialang berjangka yang menjadi anggotanya.

"Peran KBI di industri perdagangan berjangka komoditi ada tiga, pertama pengelolaan risiko, penjamin transaksi dan perhitungan IRCA," terangnya.

Lebih jauh, dia menjelaskan, bahwa salah satu cara mengenali pialang berjangka legal yang menjadi anggota bursa berjangka dan KBI adalah dengan melihat apakah nasabah mereka menggunakan Sistem Informasi Transaksi Nasabah (SITNA) atau tidak. Karena setiap transaksi dari anggota KBI dan BBJ akan terdaftar dan tercatat di sistem tersebut.

Artinya, setiap nasabah dapat melihat laporan transaksi mereka kapan pun dan dimanapun secara transparan melalui sistem SITNA.

Kemudian masuk kepada pembahasan produk derivatif Indeks, Pimpinan Cabang RFB Bandung, Anthony Martanu menjelaskan, bahwa kontrak produk derivatif di industri berjangka komoditi terbagi dua yaitu multilateral, seperti kontrak berjangka olein, kopi, kakao, timah dan bilateral yang terbagi tiga juga antara lain, kontrak berjangka locogold, forex dan index.

Berbicara indeks, untuk saat ini ada indeks Hanseng dan Indeks Nikkei. Pergerakan produk derivatif ini termasuk high risk, high return. Semua posisi harus diperhitungkan dengan cermat dengan memperhitungkan analisis fundamental dan teknikal.

"Meski indeks memiliki peluang keuntungan yang cukup baik, namun harus diakui saat ini kontrak berjangka emas merupakan primadona seiring kenaikan tren harga emas yang positif dalam beberapa waktu terakhir," pungkasnya. (pan/*)

Tags:

Berita Terkait

Related News