Adiyana: Gerakan Mahasiswa Semestinya Elegan Dan Santun

BANDUNG,- Aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak sejumlah revisi Undang-undang memunculkan memori unjukrasa pada tahun 1998. Meski demikian, munculnya korban luka baik dari mahasiswa atau aparat keamanan disayangkan oleh berbagai pihak.

Direktur Lingkar Kajian Komunikasi Politik Adiyana Slamet menilai aksi mahasiswa pada bulan September lalu itu rawan ditumpangi penumpang gelap.

"Peserta unjuk rasa didominasi mahasiswa baru bahkan pelajar yang tak mengerti substansi dari protes yang dilayangkan pada pemerintah dan DPR. Gerakan mahasiswa itu harusnya cerdas, karena berbasis intelektual," kata Adiyana di sela kegiatan diskusi bertema "Antara Opini Rakyat dan Pemerintah" di Aula DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (9/10).

Dalam diskusi yang dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung ini, Adiyana menyebut para penumpang gelap ini dengan mudahnya menyusup lantaran para demonstran tak paham dengan isu yang diusung.

Sebagai contoh, kata dia, dalam aksi menolak Revisi Undang-Undang tersebut mahasiswa terkesan anarki, tak tahu aturan dan jauh dari kesan intelek.

"Mahasiswa kan bukan satu atau dua kali berunjuk rasa, mereka pasti tahu ada aturan bahwa batas unjuk rasa hanya sampai pukul 18.00 WIB. Namun yang terjadi, justru jelang batas akhir unjuk rasa mereka malah berlaku anarki dan merusak fasilitas publik," tukasnya.

Dosen Universitas Komputer Indonesia (Unikom) ini juga mengungkap adanya kejanggalan dalam konsolidasi massa peserta aksi yang dilakukan dengan memanfaatkan platform media sosial.

Menurutnya, konsolidasi aksi dilakukan demikian cepat sehingga banyak masyarakat yang merasa kaget.

"Bahkan aksi Umbrella Movement di Hongkong pun membutuhkan waktu lama untuk konsolidasi," tandasnya.

Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga KNPI Jabar, Syahri Achyan Tanjung, mengatakan pihaknya menginisisasi kegiatan diskuksi ini dengan tujuan menampung aspirasi pasca aksi unjuk rasa mahasiswa dari berbagai pihak seperti mahasiswa, kepolisian, pengamat politik bahkan eksekutif dan legislatif.

"Mungkin lantaran diwarnai aksi anarki yang kami yakin bukan dilakukan oleh mahasiswa, tujuan aksi itu sendiri menjadi tidak fokus. Saat ini kami sengaja menghimpun aspirasi dari semua pihak untuk mencari solusi dan kejadian kemarin tak terulang lagi," tandasnya. (nie/*)

 

 

 

Tags:

Berita Terkait

Related News