Pengangguran Di Kota Bandung Didominasi Lulusan Perguruan Tinggi

BANDUNG,- Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung mengungkap jumlah penggangguran di kota Bandung mencapai 48.550 orang.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Bandung Marsana menyebutkan, saat ini pengangguran di Kota Bandung didominasi oleh lulusan SMK dan perguruan tinggi. Jumlah pengangguran yang berasal dari lulusan perguruan tinggi sebanyak 24.330 orang. Sementara yang dari lulusan SMK sebanyak 24.220 orang. 

"Itu menunjukkan bahwa walaupun kejuruan belum siap terjun langsung ke dunia usaha atau lapangan kerja. Link and match, artinya lulusan tidak sesuai dengan pangsa pasar," ucap Marsana, di Balai Kota Bandung, Kamis (7/11). 

Maka itu, pihaknya mengumpulkan SMK dan perguruan tinggi agar mulai bisa membaca pasar. Dirinya mencontohkan, bila di sebuah lingkungan banyak masyarakat yang terkena penyakit diabetes, kita menjual martabak manis, sudah pasti tidak akan laku. 

“Sehingga kami mendorong dinas pendidikan untuk membuat kurikulum (berbasis ketenagakerjaan) tersebut,” cetus Marsana. 

Namun, Disnaker mengklaim angka pengangguran di Kota Bandung mengalami penurunan dan melebihi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2018-2023, yakni 8,2 persen. Pada 2018 angka pengangguran tercatat 8,44 persen, tahun ini turun menjadi 8,01 persen.

Kepala Disnaker Kota Bandung Arief Syaifudin menyatakan, meski sudah melampaui target, pihaknya tidak akan berpuas diri. Pasalnya, angka pengangguran tersebut berjalan dinamis atau tidak statis.

“Bisa saja bertambah bukan hanya dari lulusan sekolah saja, tetapi tingkat urbanisasi juga, terlebih dengan kondisi bonus demografi. Istilahnya saat ini kita over atau kelebihan tenaga kerja, namun tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan,” terangnya.

Menghadapi bonus demografi yang 61 persennya merupakan tenaga kerja produktif, Arief menilai, akan berimbas pada persaingan ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu, masyarakat harus bisa mempersiapkan diri untuk bersaing bukan hanya di tingkat nasional saja.

"MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) juga harus diwaspadai. Maka itu, selain memberikan pelatihan berbasis kompetensi, Disnaker pun memberikan berbasis kemasyarakatan, untuk mempersiapkan diri menjadi wirausaha baru,” pungkasnya. (pan/*)

Tags:

Berita Terkait

Related News