Soal Wacana Masa Jabatan Presiden Lebih Dari 2 Periode, Doni: Kembali Ke Masa Kegelapan

BANDUNG,- Wacana mengenai masa jabatan presiden lebih dari dua periode yang ramai diperdebatkan elit partai politik menuai komentar dari banyak pihak.

Salah satunya Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Doni Rhomdoni hasil Kongres Medan.

"Kami menolak tegas wacana tersebut, karena  power tends to corupt, absolute power corupt absolutely. Kekuasaan yang tak dibatasi apalagi tak terbatas sudah pasti akan disalah gunakan," kata Doni dalam keterangannya, Sabtu (7/12).

Doni menilai walau masih dalam tataran wacana wacana, hal tersebut merupakan gagasan yang mundur sekaligus menghianati perjuangan reformasi yang berusaha keluar dari belenggu rezim otoritarian orde baru selama 32 tahun.

"Dulu mahasiswa dan masyarakat berjuang berdarah darah, nah sekarang kok malah para segelintir elit ingin kembali kemasa kegelapan itu," ujarnya.

Selain wacana masa jabatan presiden, imbuh dia, beredar pula wacana merubah sistem pemilihan umum langsung presiden dan kepala daerah menjadi sistem keterwakilan lewat pemilihan oleh Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) untuk presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk memilih kepala daerah.

"Dalam situasi sekarang ini, wacana pemilihan presiden maupun kepala daerah lewat gaya keterwakilan seperti itu, apapun dalihnya, kami melihat sebagai sebuah upaya untuk membajak demokrasi yang merupakan hak rakyat oleh sekelompok oligarki atau sekelompok elit penguasa dan pengusaha. Tujuannya, agar mereka kemudian memonopoli jalannya roda kenegaraan sesuai kepentingan kelompoknya. Lalu dimana posisi rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi," tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini rakyat sangat menderita apalagi iuran BPJS naik 100%, pertumbuhan ekonomi stagnan, utang luar negeri membengkak.

Kemudian, cetus dia, para elit politik berani berani nya mengeluarkan wacana yang meresahkan masyarakat seperti itu.

"Ada baiknya fokus bekerja untuk memperbaiki nasib rakyat yang semakin hari semakin tercekik dari pada mengeluarkan wacana yang sudah pasti akan banyak penolakan," tandasnya. (nie/*)

Tags:

Berita Terkait

Related News